Banyak orang mengenal gigi bungsu sebagai gigi terakhir yang tumbuh saat seseorang beranjak dewasa. Cerita tentang gigi bungsu hampir selalu identik dengan rasa sakit. Nyeri berhari-hari, sulit mengunyah makanan, bengkak pada gusi, hingga demam sering kali menjadi keluhan yang menyertai pertumbuhan gigi bungsu.
Dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), drg. Amelia Elizabeth Pranoto, Sp.BMM. menjelaskan, secara teori gigi geraham bungsu mulai keluar dari gusi pada rentang usia 18 hingga 25 tahun. Meski dalam praktiknya ada yang tumbuh lebih cepat maupun lebih lambat dari rentang usia tersebut.
“Tumbuh gigi bungsu itu proses normal pertumbuhan gigi manusia. Namun, nggak semua gigi bungsu bisa tumbuh baik dan normal pada beberapa kasus,” jelas Amelia, Senin (22/6/2026).
Amelia menjelaskan, kondisi ideal terjadi ketika gigi geraham bungsu memiliki ruang yang cukup pada bagian paling belakang rahang atas maupun bawah. Dalam situasi tersebut, gigi dapat tumbuh tegak dan berfungsi sebagaimana gigi geraham lainnya.
Tumbuh Gigi Bungsu, Perlukah Khawatir?
Gigi bungsu normal tak akan menimbulkan masalah kesehatan gigi dan mulut. Persoalan mulai muncul ketika ruang pada rahang tidak cukup untuk menampung seluruh susunan gigi.
Menurut Amelia, ukuran rahang manusia sering kali lebih sempit dibandingkan total ukuran gigi yang harus ditampung. Akibatnya, gigi geraham bungsu tidak memiliki ruang yang memadai untuk tumbuh secara sempurna.
Ketika ruang tidak mencukupi, gigi geraham bungsu dapat tumbuh miring, hanya muncul sebagian dari gusi, atau bahkan sama sekali tidak berhasil keluar ke permukaan. Kondisi gagal tumbuh tersebut dikenal sebagai impaksi.
Impaksi gigi bungsu dapat terjadi dalam berbagai posisi. “Ada kasus yang gigi bungsunya tumbuh miring ke arah gigi di depannya, condong ke belakang, tumbuh menyamping, hingga tertanam sepenuhnya di dalam tulang rahang atau tidak tampak dari permukaan gusi,” sebut Amelia.
Meski terkadang tak langsung menimbulkan rasa sakit, impaksi berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan mulut dan gigi. Amelia mencontohkan beberapa kasus pasien yang pernah ia tangani di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Soelastri Surakarta, seperti impaksi gigi bungsu yang menyebabkan sisa makanan mudah terjebak di sela-sela gigi sehingga memicu infeksi dan radang gusi.
Dalam kasus tertentu, tekanan dari mahkota gigi bungsu yang tumbuh miring juga dapat merusak akar gigi di depannya. “Bahkan, kondisi yang dibiarkan terlalu lama berisiko menyebabkan terbentuknya kista,” jelas dia.
Karena alasan tersebut, gigi geraham bungsu yang impaksi umumnya dianjurkan untuk diambil melalui prosedur bedah yang dikenal masyarakat sebagai odontektomi. Tindakan yang bertujuan menghilangkan sumber masalah sekaligus mencegah komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.
Tuntaskan Masalah sampai ke Akar!
Di masyarakat, masih banyak orang yang memilih mengatasi keluhan gigi bungsu dengan membeli obat pereda nyeri secara mandiri. Ketika rasa sakit mereda, mereka menganggap masalah telah selesai dan tidak lagi memeriksakan diri ke dokter gigi.
Menurut Amelia, kondisi tersebut sebenarnya tidak bisa langsung disebut sebagai bentuk penyepelean. Pasien telah berusaha mencari pertolongan dengan mengonsumsi obat.
Perlu dipahami bahwa tujuan perawatan bukan sekadar menghilangkan rasa sakit, melainkan menuntaskan sumber masalahnya. “Menangani keluhan dan menuntaskan permasalahannya sedini mungkin. Karena makin cepat masalah diselesaikan, makin murah biaya perawatan kesehatannya dan tidak menghabiskan banyak waktu,” ujar Amelia memperingatkan.
Gigi bungsu tumbuh miring memang menjadi salah satu kondisi yang paling sering memicu keluhan berulang. Salah satu kasus paling berat yang pernah ditangani Amelia berawal dari gigi geraham bungsu yang tumbuh miring dan berlubang.
Pasien tersebut sudah berkali-kali mengalami pembengkakan, tetapi keluhannya terus diabaikan. Akhirnya terjadi infeksi yang berkembang menjadi pembusukan dan pembentukan nanah. Infeksi kemudian menyebar ke area leher, rongga dada, hingga paru-paru.
“Kondisi pasien terus memburuk sampai akhirnya bakteri merusak hampir seluruh organ tubuhnya dan menyebabkan kematian,” terangnya.
Amelia menilai kasus tersebut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa masalah yang tampak sederhana pada satu gigi dapat berkembang menjadi ancaman serius apabila tidak ditangani dengan tepat.
Lantas, apakah gigi bungsu harus dicabut? Pertanyaan ini kerap diajukan pasien kepada Amelia saat menjalani pemeriksaan. Mungkin, pertanyaan yang sama juga tengah muncul di benak Anda ketika mulai merasakan nyeri, bengkak, atau keluhan lain akibat gigi bungsu.
“Tidak selalu. Gigi bungsu normal tidak menimbulkan keluhan umumnya tidak memerlukan tindakan khusus. Dokter biasanya hanya menyarankan pemantauan rutin untuk memastikan kondisinya tetap baik,” kata Amelia.
Mencabut gigi bungsu sering menjadi pilihan ketika sudah menimbulkan berbagai keluhan atau berisiko merusak jaringan di sekitarnya. Pada kasus yang lebih kompleks, dokter dapat merekomendasikan operasi gigi bungsu untuk mengangkat gigi yang mengalami impaksi.
Karena itu, jangan menunggu hingga gusi membengkak, sulit makan, atau infeksi semakin parah. Jika gigi bungsu mulai menimbulkan keluhan, segera periksakan diri ke dokter gigi. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang masalah terselesaikan sebelum berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







