Apa Itu Hantavirus?
Penularan Hantavirus
Gejala Hantavirus
Cara Mencegah Hantavirus
Hantavirus dan Risiko Pandemi Global

Hantavirus tengah menjadi perbincangan dalam beberapa hari terakhir. Hantavirus ramai dibahas sebab mewabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Tiga orang meninggal akibat hantavirus di kapal itu. 

Dua kasus suspek hantavirus terdeteksi di Jakarta dan Yogyakarta pekan lalu. Kendati Kementerian Kesehatan menyatakan dua kasus suspek tersebut negatif hantavirus, kabar tersebut kadung menuai gaduh di media sosial. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku telah berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk mengantisipasi penyebaran hantavirus lebih lanjut. 

“Kami sudah koordinasi dengan WHO. Kami minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya, tetapi yang hasil masukannya kami terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu, Jadi belum nyebar ke mana-mana," ujar Budi, dikutip Rabu (13/5/2026).

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus adalah virus yang berasal dari hewan pengerat, seperti tikus, sebagai reservoir utamanya. Hantavirus menjangkiti manusia pertama kali saat terjadi wabah Korean hemorrhagic fever pada tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa selama Perang Korea 1951-1954. 

Dosen mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta, dr. Listiana Masyita Dewi, M.Sc., menjelaskan hantavirus terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni old world hantaviruses dan new world hantaviruses

“Secara sederhana, pengelompokan ini dilakukan berdasarkan manifestasi klinis dan distribusinya. Dua kelompok ini adalah dua kelompok besar,” ungkap perempuan yang akrab disapa Syita, Rabu (13/5/2026)

Hantavirus pada kelompok old world hantaviruses banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Hantavirus jenis ini dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome

Strain hantavirus jenis ini, antara lain Hantaan virus, Seoul virus, Puumala virus, dan Dobrava-Belgrade virus. Strain Seoul virus banyak ditemukan di Indonesia. 

Sedangkan hantavirus jenis new world hantaviruses banyak ditemukan di Amerika Utara dan Selatan. Hantavirus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome. Strain hantavirus jenis ini, antara lain Sin Nombre virus, Andes virus, Laguna Negra virus, dan Black Creek Canal virus.

Penularan Hantavirus

Hantavirus dapat ditularkan lewat beberapa cara. Cara penularan hantavirus, antara lain:

1. Menghirup partikel udara atau aerosol

Penularan hantavirus dapat terjadi ketika urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi mengering. Partikel virus dapat terbang ke udara bersama debu. Virus dapat menjangkiti manusia yang menghirup partikel virus dalam debu.

2. Kontak langsung

Penularan hantavirus dapat terjadi bila seseorang menyentuh urin, kotoran, atau sarang tikus, lalu menyentuh area wajah tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

3. Gigitan tikus

Meskipun sangat jarang terjadi, gigitan tikus terinfeksi dapat menularkan hantavirus ke dalam aliran darah manusia.

4. Mengonsumsi makanan terkontaminasi

Makanan yang telah terkontaminasi tikus dengan hantavirus akan berbahaya bila dikonsumsi manusia. 

Apakah hantavirus dapat menular dari manusia ke manusia?

Penularan hantavirus dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Dokter Syita menjelaskan penularan hantavirus antarmanusia saat ini dilaporkan terjadi pada infeksi Andes hantavirus. Penularan ini terjadi di Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Chile.

Penularan diduga terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh atau droplet pasien pada fase awal penyakit. Misalnya, pada anggota keluarga atau tenaga kesehatan yang merawat pasien secara dekat. 

“Sebagian besar jenis hantavirus lain, seperti Sin Nombre virus atau Hantaan virus, tidak terbukti menyebar antarmanusia dan umumnya ditularkan langsung dari rodensia (tikus) ke manusia,” terangnya.

Syita menambahkan hantavirus tidak hanya menyebar di daerah tropis, tetapi dapat ditemukan di berbagai wilayah dunia, termasuk daerah beriklim sedang hingga dingin. 

“Penyebarannya lebih ditentukan oleh keberadaan rodensia reservoir daripada iklim tropis semata,” lanjut dia. 

Gejala Hantavirus

Gejala hantavirus dapat muncul setelah masa inkubasi virus di dalam tubuh. Syita menyebut masa inkubasi biasanya berlangsung antara 1 hingga 8 minggu.

Gejala awal hantavirus terjadi selama 1 sampai 5 hari pertama. Fase ini disebut flu-like syndrome. “Karena menyerupai gejala infeksi virus pada umumnya, seperti yang terlihat saat awal terkena virus flu,” kata Syita. 

Gejala awal hantavirus meliputi:

  1. Demam tinggi dan menggigil
  2. Nyeri otot yang parah, terutama pada kelompok otot besar seperti paha, punggung, bahu, dan pinggul
  3. Kelelahan ekstrem
  4. Sakit kepala atau pusing
  5. Gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut.

Gejala hantavirus tingkat lanjut akan berbeda tergantung tipe virusnya. Pada Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HRFS), fase lanjut penyakit ditandai dengan gangguan ginjal yang menonjol akibat peningkatan permeabilitas pembuluh darah. 

Pasien dapat mengalami hipotensi, perdarahan, penurunan produksi urin (oliguria), hingga gagal ginjal akut. Pada kasus berat dapat terjadi syok dan gangguan keseimbangan cairan serta elektrolit.

Sebaliknya, pada Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), fase lanjut ditandai oleh gangguan pernapasan berat akibat kebocoran kapiler di paru-paru. Pasien mengalami sesak napas progresif, edema paru, hipoksia, dan gagal napas akut yang dapat berkembang cepat dalam waktu singkat serta sering memerlukan ventilasi mekanik.

Apakah hantavirus dapat menyebabkan kematian?

Syita menjelaskan hantavirus dapat menyebabkan kematian. Kasus kematian dapat terjadi ketika infeksi hantavirus berkembang menjadi HRFS dan HPS.

“Pada HRFS, kematian umumnya disebabkan oleh syok akibat kebocoran pembuluh darah, perdarahan berat, gagal ginjal akut, gangguan elektrolit, atau komplikasi multiorgan,” jelasnya.

Pada kasus berat, hipotensi dan gangguan sirkulasi dapat berkembang menjadi kegagalan organ yang fatal. Angka mortalitas HFRS bervariasi tergantung jenis hantavirus penyebabnya. Infeksi Puumala virus biasanya memiliki mortalitas rendah kurang dari satu persen. Sedangkan Hantaan virus dan Dobrava virus dapat mencapai sekitar 5-15 persen pada kasus berat.

“Untuk HPS, kematian dapat terjadi akibat gagal napas akut dan syok, dengan angka mortalitas yang dapat mencapai sekitar 30 sampai 40 persen,” imbuh Syita.

Cara Mencegah Hantavirus

Hantavirus mungkin mengkhawatirkan sebagian orang. Namun, penyebaran virus ini masih dapat dikendalikan melalui sejumlah cara. 

Beberapa cara mencegah penularan hantavirus, meliputi:

1. Mengendalikan populasi tikus

Caranya dengan menutup lubang atau celah rumah dan memasang perangkap untuk mencegah rodensia masuk ke lingkungan manusia.

2. Menjaga kebersihan lingkungan 

Dilakukan dengan membersihkan sisa makanan, sampah, dan area lembap yang dapat menjadi tempat hidup tikus.

3. Menyimpan makanan dengan aman

Makanan dan air disimpan dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi urin atau feses rodensia.

4. Menggunakan APD saat membersihkan area berisiko

Memakai masker dan sarung tangan ketika membersihkan gudang, loteng, atau tempat yang banyak tikus.

5. Tidak menyapu kotoran tikus secara kering

Kotoran sebaiknya disemprot desinfektan terlebih dahulu untuk mencegah aerosol virus terhirup.

6. Mencuci tangan setelah kontak dengan lingkungan berisiko

Mencuci tangan dapat membantu mengurangi kemungkinan virus masuk melalui mulut, hidung, atau mata.

7. Menghindari kontak langsung dengan rodensia liar

Kontak langsung lebih baik dihindari, baik rodensia hidup maupun mati karena dapat menjadi sumber penularan hantavirus. 

Hantavirus dan Risiko Pandemi Global

Kekhawatiran penyebaran hantavirus merebak di jagat maya. Dalam pantauan di media sosial X, sejumlah warganet khawatir jika hantavirus dapat menjadi pandemi global. Kendati demikian, Syita meminta masyarakat untuk tetap tenang.

Risiko hantavirus menjadi pandemi global saat ini dinilai rendah karena sebagian besar hantavirus tidak mudah menular antarmanusia. “Penularannya terutama berasal dari rodensia ke manusia,” tegasnya. 

Berbeda dengan virus respiratori seperti SARS-CoV-2 yang penularannya melalui udara, penyebaran hantavirus umumnya memerlukan paparan dekat terhadap urin, feses, atau liur rodensia yang terinfeksi. 

“Kasus ini menjadi viral karena banyak media dan media sosial membandingkannya dengan awal pandemi Covid-19. Apalagi wabah terjadi di kapal pesiar dan melibatkan pelacakan penumpang lintas negara,” terus Syita.

Meskipun demikian, syita menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap beberapa jenis hantavirus, seperti Andes hantavirus, karena memiliki kemampuan penularan antarmanusia melalui kontak erat. 

Faktor lain yang perlu diwaspadai, antara lain perubahan iklim, urbanisasi, dan peningkatan populasi rodensia. Ketiga faktor ini berpeluang meningkatkan risiko munculnya wabah lokal di masa depan.

Syita mengajak masyarakat untuk mengenali gejala hantavirus, baik pada diri sendiri maupun orang di lingkungan sekitar. Masyarakat harus menaruh perhatian khusus apabila menemukan seseorang yang mengalami demam akut disertai nyeri otot hebat, sakit kepala, mual, atau sesak napas setelah memiliki riwayat paparan rodensia atau lingkungan yang terkontaminasi tikus.

“Kecurigaan semakin kuat bila muncul gejala fase lanjut seperti sesak napas progresif yang mengarah ke HPS atau penurunan jumlah urin dan tanda perdarahan yang mengarah ke HFRS,” tandasnya.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Penelitian

image-featured
17 Juli 2026

Dari kotoran domba, lahirlah pupuk organik kaya nutrisi untuk tumbuhan lewat bantuan “maggot”. Mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan “zero waste”.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
19 Juni 2026

Antibiotik termasuk obat keras yang seharusnya tidak diperjualbelikan bebas. Menyimpan sisa dan mengonsumsinya bisa memicu resistensi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.