Kasus daycare Little Aresha, Yogyakarta, menjadi sorotan publik setelah mencuatnya dugaan perlakuan tidak layak terhadap balita yang dititipkan di penitipan anak tersebut. Memantik kegelisahan banyak orang tua, terutama bagi keluarga yang setiap hari harus membagi waktu antara pekerjaan dan pengasuhan anak.
Pewartaan Tempo menyebut, per 2 Mei 2026 terdapat 93 laporan masuk ke Pemerintah Kota Yogyakarta. Laporan yang masuk ke posko aduan disertai sejumlah bukti pendukung. Misalnya orang tua melaporkan anaknya pernah mengalami bekas lebam saat dititipkan sebelum kasus kekerasan terungkap, yang didukung dokumen medis dan sejenisnya sebagai bukti.
Sementara laporan Kompas mengungkap, puluhan anak yang menjadi korban daycare Little Aresha mengalami gangguan tumbuh kembang. Hal tersebut diketahui saat Polresta Yogyakarta melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi korban.
“Kalau pengakuan masing-masing dari orang tua, ya. Ada yang dibilang berat badan anaknya menurun,” ungkap Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polresta Yogyakarta, Ipda Apri Sawitri, dikutip dari Kompas, Jumat (8/5/2026).
Sudah menjadi hal lumrah jika daycare dipilih sebagai ruang aman untuk menitipkan anak saat orang tua bekerja. Sayangnya, kasus yang viral belakangan justru membuat orang tua semakin cemas kala harus meninggalkan si buah hati.
Dokter spesialis anak sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr. Restu Tri Wulandani Tolibin, Sp.A., menilai kasus Little Aresha tak boleh dianggap sepele lantaran dampaknya dapat memengaruhi kesehatan fisik hingga perkembangan mental anak dalam jangka panjang.
“Dampak jangka pendek dapat berupa memar, luka, cedera fisik, gangguan makan dan tidur, hingga respons stress ya, seperti tangisan terus-menerus dan kecemasan,” ujar Restu saat ditemui pada Jumat (8/5/2026).
Trauma pada Sistem Memori dan Emosi Anak
Kekerasan daycare Little Aresha, menurut Restu, perlu dilihat dari perspektif perkembangan otak anak usia dini. Pada fase bayi dan balita, otak sedang berkembang sangat cepat sehingga pengalaman buruk dapat meninggalkan jejak mendalam meski anak belum mampu berbicara atau menjelaskan apa yang dialaminya.
Ia menjelaskan trauma pada bayi dan balita dapat terekam dalam sistem memori dan emosi anak. Stres kronis bahkan berpotensi mengganggu perkembangan area otak yang berkaitan dengan memori, emosi, dan kontrol perilaku.
“Trauma yang terjadi pada bayi dan balita dapat mempengaruhi pembentukan memori jangka panjang meskipun mereka belum dapat mengingatnya dalam bentuk narasi verbal,” jelas Restu gamblang.

Hal itu membuat orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan kecil pada perilaku anak setelah pulang dari daycare. Tidak semua anak mampu menunjukkan tanda bahaya secara langsung. Sebagian justru memperlihatkan perubahan emosional secara perlahan.
Tip Memilih Daycare secara Bijak
Kasus daycare Yogyakarta ini juga memperlihatkan pentingnya standar keamanan dalam layanan penitipan anak. Di kota-kota besar, kebutuhan daycare terus meningkat seiring bertambahnya keluarga dengan orang tua bekerja penuh waktu.
Sayangnya, peningkatan jumlah fasilitas pengasuhan belum selalu diiringi pengawasan yang memadai. Menurut Restu, salah satu aspek penting yang sering luput diperhatikan adalah kompetensi pengasuh.
“Caregiver nggak cukup hanya menyukai anak-anak saja, tetapi juga harus memiliki keterampilan dasar penanganan anak, bahkan saat dalam kondisi darurat,” terangnya.
Restu menyarankan orang tua memastikan pengasuh memiliki sertifikasi pengasuh anak dari lembaga resmi serta pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Kemampuan ini penting untuk menghadapi situasi darurat, seperti tersedak, henti napas, atau kecelakaan pada anak.
Selain kompetensi pengasuh, rasio antara jumlah anak dan caregiver juga sangat menentukan kualitas pengawasan. Dari sisi medis, rasio ideal untuk bayi adalah satu pengasuh menangani tiga bayi. Sementara untuk anak di bawah dua tahun, satu pengasuh maksimal menangani empat anak.
“Semakin kecil usia anak, semakin tinggi kebutuhan pengawasan dan respons cepat dari pengasuh,” imbuh Restu.
Penitipan anak terdekat sering menjadi pilihan orang tua karena kebutuhan praktis dan faktor jarak. Namun Restu kembali mengingatkan, memilih daycare tak boleh hanya mempertimbangkan lokasi yang dekat dari rumah atau kantor.
Orang tua perlu mengecek kondisi lingkungan daycare secara langsung. Kebersihan area bermain, keamanan perabotan, kualitas makanan, keberadaan CCTV, hingga prosedur penjemputan anak harus menjadi perhatian utama.
Restu mengatakan orang tua harus mencari ulasan dari pengguna lain dan memastikan daycare memiliki izin operasional resmi dari lembaga berwenang. Transparansi pengelola menjadi faktor penting dalam membangun rasa aman.
“Penitipan anak kan pada dasarnya dapat membantu tumbuh kembang sosial anak jika dikelola dengan baik. Anak dapat belajar bersosialisasi, berbagi, hingga mengenal rutinitas sejak dini,” sebut Restu.
Kasus Little Aresha menunjukkan bahwa anak usia dini merupakan kelompok yang sangat rentan. Mereka belum mampu membela diri, belum bisa menjelaskan pengalaman secara utuh, dan sepenuhnya bergantung pada orang dewasa di sekitarnya.
“Karena itu ya, pengawasan terhadap layanan daycare juga nggak cukup dilakukan ketika kasus viral muncul di media sosial. Orang tua, pengelola, tenaga kesehatan, dan pemerintah perlu membangun sistem perlindungan anak yang lebih serius dan berkelanjutan,” tutupnya.
Kekerasan pada anak dalam bentuk apapun dan di mana pun harus dicegah dan dihentikan. Sebab setiap anak berhak tumbuh di lingkungan yang aman, termasuk saat orang tuanya menitipkan kepercayaan pada sebuah daycare.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







