Sudah delapan bulan program makan bergizi gratis (MBG) bergulir. Selama itu pula, program andalan Presiden Prabowo Subianto itu menuai kasus keracunan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Temuan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebutkan sebanyak lebih dari 4.000 siswa menjadi korban keracunan MBG sepanjang delapan bulan terakhir. Jumlah tersebut mencakup siswa dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.
Kasus keracunan MBG terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Di Kupang, sebanyak 140 siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Kupang, Nusa Tenggara Timur, menjadi korban keracunan MBG pada 22 Juli 2025. Mereka dilarikan ke tiga rumah sakit terdekat usai mengalami diare, mual, dan muntah.
Keracunan MBG juga terjadi di Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 210 siswa dari jenjang taman kanak-kanak sampai sekolah menengah pertama mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG. 22 siswa harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Pemerintah daerah bersama Badan Gizi Nasional segera menganalisis menu MBG saat itu di laboratorium. Hasilnya, menu MBG saat itu mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella.
Temuan kasus keracunan MBG patut menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Mengingat program MBG digadang-gadang akan mampu meningkatkan kualitas pelajar Indonesia di masa depan. Terbukti dengan proporsi 44,2 persen anggaran pendidikan tahun 2026 yang digelontorkan untuk MBG.
Dosen Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Pramudya Kurnia, S.T.P., M.Agr., menyayangkan terjadinya kasus keracunan MBG pada ribuan pelajar di Indonesia. Ia mendorong pemerintah untuk segera melakukan evaluasi pelaksanaan MBG.
Evaluasi tersebut perlu dilakukan dengan melibatkan dinas kesehatan di seluruh daerah di Indonesia. Pramudya menyebut pemerintah harus menguatkan kembali edukasi kepada pihak yang terlibat dalam rantai pasok MBG.
“Kalau bisa dinas kesehatan hadir di SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk mengevaluasi, kemudian memberikan rekomendasi,” ujar Pramudya, Kamis (18/9/2025).
Pramudya meyakini kurangnya pengawasan tata laksana sistem pangan massal juga menjadi biang keladi kasus keracunan MBG. Ia meminta pemerintah untuk segera melakukan langkah cepat dengan mengaudit bahan baku dan vendor, memberikan pelatihan dan sertifikasi tenaga dapur, serta menerapkan standardisasi proses produksi dan distribusi.
“Pelatihan higienitas dan keamanan pangan wajib dilakukan. Juga penerapan checklist bahan baku makanan dan harus memperhatikan tanggal kadaluarsa bahan baku,” beber dia.
Satu kasus keracunan MBG harus disikapi dengan serius agar program MBG dapat mewujudkan tujuan utamanya. Menghasilkan nilai tambah sumber daya manusia Indonesia yang tercipta sepanjang masa hingga akhir hayat. Keseriusan pemerintah pusat menjadi kunci utama agar evaluasi MBG berjalan tepat sasaran.

Penyebab Keracunan MBG
Kasus keracunan MBG yang dialami oleh 4.000 siswa di Indonesia memantik pertanyaan sebagian kalangan. Mengapa keracunan terus terjadi selama delapan bulan terakhir?
Keracunan MBG diduga disebabkan oleh sejumlah faktor, yakni cemaran mikrobiologis, cemaran bahan kimia, pengolahan dan penyimpanan bahan makanan yang tidak sesuai prosedur, dan jarak waktu antara pengolahan hingga penyajian yang terlampau lama.
Pramudya mengatakan cemaran mikrobiologis dapat terjadi selama proses produksi menu MBG. Cemaran tersebut terjadi pada saat bahan makanan dipanen, didistribusikan ke dapur MBG, hingga disajikan kepada siswa.
“Cemaran itu bisa ada di semua produk. Terutama memang yang paling cepat kena itu biasanya produk-produk hewani,” jelasnya.
Produk hewani seperti daging ayam, sapi, maupun ikan merupakan bahan pangan yang sensitif. Produk hewani memiliki kandungan air dan protein yang tinggi, sehingga menjadi tempat yang ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme.
Keracunan MBG juga dapat disebabkan oleh cemaran kimia. Pramudya berkata cemaran kimia dapat terjadi akibat cemaran pestisida pada sayuran dan buah-buahan.
Selain itu, cemaran kimia dapat terjadi akibat penggunaan bahan tambahan pada makanan yang tidak tepat. Misalnya penggunaan bumbu buatan yang melebihi takaran.
Pengolahan bahan makanan menjadi menu MBG yang tidak sesuai prosedur juga berisiko menurunkan kualitas makanan yang dihasilkan. Ketidaksesuaian itu, antara lain penggunaan alat masak yang tidak steril, alat makan yang kurang bersih, air yang tercemar, serta penyimpanan bahan makanan yang asal-asalan.
Pramudya juga menyebut jarak waktu sejak pengolahan sampai pendistribusian turut memicu penurunan kualitas makanan. Untuk mengakomodir ribuan peserta MBG, setiap SPPG harus menyiapkan menu sejak dini hari. Padahal, menu MBG baru akan dikonsumsi saat siang hari.
“Seingat saya Badan Gizi Nasional sudah memberi aturan maksimal empat jam antara selesai masak sampai dikonsumsi,” tutur Pramudya.
Agar Keracunan MBG Tidak Berulang
Kasus keracunan MBG harus menjadi perhatian serius. Pramudya mendorong SPPG dan BGN untuk memastikan proses mendapatkan bahan baku dilakukan sesuai prosedur.
Pemisahan ruang penyimpanan juga harus dilakukan begitu bahan baku masuk ke dapur MBG. “Bahan-bahan segar seperti daging harus dipisah dengan bahan lainnya,” imbuhnya.
Proses memasak juga perlu dilakukan dengan jeli. Juru masak harus mengenali kondisi bahan pangan sebelum diolah. Juru masak wajib memastikan menu MBG matang sempurna agar tidak menyisakan mikroba di dalam makanan.
Pengemasan bahan makanan juga tidak boleh terburu-buru. Pramudya menyarankan agar menu MBG dibiarkan terbuka dulu agar suhunya turun. Menutup wadah makanan yang masih panas akan mengunci uap air di dalamnya. Alhasil makanan akan cepat basi sebelum sampai di meja para murid.
“Proses distribusi dari SPPG ke sekolah-sekolah juga harus dipastikan agar tidak boleh lebih dari 30 menit,” tegasnya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







