Proses Identifikasi Makin Canggih
Deforestasi Jadi Ancaman Terbesar

Sepanjang 2025, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan penemuan 51 spesies baru. Terdiri atas 32 fauna, 16 flora, dan 3 mikroorganisme yang tersebar dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Angka tersebut menjadi penanda bahwa bentang alam Nusantara masih menyimpan misteri biologis yang belum sepenuhnya terkuak.

Keanekaragaman spesies yang ditemukan oleh BRIN juga kembali menegaskan reputasi Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas dunia. Bagi dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Siti Kartika Sari, S.Pd, M.Pd., capaian tersebut adalah kabar baik sekaligus peringatan bagi kita semua.

“Penemuan spesies baru itu tidak instan. Bisa butuh satu sampai tiga tahun riset untuk memastikan benar-benar berbeda. Menariknya ini banyak yang endemik, ya,” ujar dosen yang akrab disapa Tika, Jumat (20/2/2026).

Berdasarkan penjelasan Tika, banyak organisme yang sebenarnya sudah lama terlihat di alam. Baru diakui sebagai spesies baru setelah diuji morfologi, anatomi, hingga DNA.

Hewan endemik menjadi kelompok yang paling rentan sekaligus paling menarik dalam gelombang temuan tersebut. Spesies yang hanya hidup di satu lokasi, misalnya lereng gunung atau pulau terpencil, memiliki adaptasi unik yang tidak dimiliki kerabatnya di tempat lain.

Namun justru karena keterbatasan sebaran itulah hewan-hewan ini rentan punah. Kasus inilah yang Tika sebut sebagai peringatan.

“Kalau habitatnya berubah sedikit saja, mereka bisa hilang. Jadi ketika kita menemukan spesies endemik, itu sebenarnya alarm agar wilayahnya segera dilindungi,” kata dia. Tika menyebut penetapan kawasan konservasi harus menjadi langkah pertama.

Hewan endemik Indonesia menurutnya terbentuk karena karakter geografis kepulauan. Pulau-pulau yang terpisah laut menciptakan isolasi alami sehingga populasi berevolusi sendiri-sendiri.

“Itulah kenapa Indonesia punya peluang sangat besar menemukan spesies baru. Antarpulau bisa melahirkan karakter yang berbeda,” ujarnya. Ia mencontohkan banyak katak, reptil, tikus hutan, hingga ikan air tawar yang belakangan teridentifikasi sebagai jenis baru karena perbedaan perilaku atau genetik.

Dalam praktik ilmiah, identifikasi tak cukup hanya melihat bentuk luar. Tika menjelaskan tahapannya. Mulai dari pengamatan morfologi (warna, ukuran, organ), dilanjutkan anatomi, lalu uji perilaku untuk hewan, dan terakhir analisis DNA.

“Kalau secara genetik berbeda signifikan dari database internasional, barulah dia layak diberi nama baru,” jelasnya.

Proses Identifikasi Makin Canggih

Spesies baru yang ditemukan BRIN juga menunjukkan kemajuan teknologi taksonomi di Indonesia. Jika dulu penentuan hanya berdasarkan ciri fisik, kini analisis genetik mempercepat proses identifikasi.

Contohnya mikroalga yang secara tampilan mirip jenis lama, tetapi secara DNA ternyata berbeda garis keturunan. Begitu pula jamur morel dari Gunung Rinjani yang akhirnya memperoleh nama baru karena karakter anatominya yang khas.

keanekaragaman spesies, hewan endemik, hewan endemik indonesia, deforestasi, flora dan fauna, gajah sumatera

“Sekarang alat uji genetik sudah banyak. Jadi penelitian makin masif,” ujar Tika. Tren ini jadi pertanda positif bahwa kapasitas riset nasional kian menguat.

Flora dan fauna, juga mikroorganisme yang terungkap juga menyimpan cerita unik. Dari kelompok tumbuhan, anggrek mendominasi daftar temuan baru. Tika bercerita bahwa Indonesia pernah menjadi negara dengan kekayaan anggrek terbanyak di dunia.

“Padahal banyak orang mengira melati itu tanaman asli kita, padahal bukan. Justru anggrek yang benar-benar identitas Indonesia,” katanya. Selain anggrek, begonia, talas-talasan, hingga tanaman hutan lainnya juga menunjukkan keragaman tinggi.

Tika mengenang masa kecilnya yang memakan bunga begonia liar yang rasanya asam. “Ternyata sekarang diteliti dan dibudidayakan sebagai tanaman hias. Jadi banyak potensi pangan atau obat yang belum kita sadari,” ujar dia.

Deforestasi Jadi Ancaman Terbesar

Deforestasi menjadi sisi gelap dari kabar penemuan spesies baru kali ini. Tika juga mengingatkan kerusakan habitat membuat spesies punah bahkan sebelum sempat dikenali.

Maraknya kabar buruk soal pembukaan lahan, seperti pengalihfungsian hutan bukan untuk kebutuhan dasar, melainkan dorongan ekonomi skala besar. “Eksplor boleh, tapi harus beretika. Jangan sampai eksploitasi,” ujarnya memperingatkan.

Gajah Sumatera menjadi contoh paradoks konservasi. Tika mengaku mengikuti kabar kematian dan konflik gajah dengan manusia.

Tragedi kematian gajah Sumatera bukan kesalahan satwa. “Bukan mereka yang masuk ke wilayah kita. Kita yang merambah wilayah mereka,” tegas Tika.

Ia menjelaskan gajah memiliki daya ingat kuat dan jalur jelajah tetap. Ketika jalur itu berubah menjadi kebun atau permukiman, konflik tak terhindarkan.

Ditambah lagi penyakit dan reproduksi yang lambat. Berdasarkan penjelasan Tika, seekor gajah betina bisa bunting lagi setelah sekitar empat tahun, membuat populasi mereka lamban pulih.

Memang semestinya penemuan puluhan spesies baru harus dibarengi perubahan cara pandang. Pemerintah dan publik, kata Tika, jangan buru-buru menanyakan manfaat ekonomi suatu organisme.

“Sebelum kita tanya manfaatnya apa, pelajari dulu cara dia berkembang biak. Gampang atau sulit. Kalau sulit, lindungi dulu,” tegasnya sekali lagi.

Tika khawatir manusia terlalu cepat mengeksploitasi tanpa memikirkan regenerasi. Akibatnya, ketika sadar populasinya menipis, semuanya sudah terlambat seperti yang terjadi pada beberapa satwa besar Indonesia.

Penemuan 51 spesies baru ini menjadi salah satu kabar baik di penghujung tahun lalu. Bukti bahwa alam Indonesia sangatlah kaya, juga pengingat bahwa di tengah laju proyek pembangunan dan tekanan ekonomi, konservasi tak lagi bisa dipandang sebagai urusan pinggiran.

“Kalau kita bijak. Spesies baru bisa jadi sumber ilmu dan manfaat. Tapi kalau serakah, kita hanya akan meninggalkan cerita tentang apa yang pernah ada,” pungkas Tika.

 

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Kiprah

image-featured
9 Mei 2026

Tulisan opini dan esai menjadi medium Farhan Abadie untuk mengeluarkan keresahannya. Meraih juara dan terbit di media massa nasional.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
7 Mei 2026

Seorang dokter tak hanya dituntut cermat mendiagnosis, tetapi juga piawai memahami pasien secara utuh. Itulah alasan Yusuf Alam Romadhon merintis Prodi Kedokteran Keluarga Layanan Primer di UMS.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
1 April 2026

Pengalaman Salsabila Khoirun Nisa terjun langsung ke masyarakat membentuk minatnya menjadi surveilans epidemiologi dan pencegahan penyakit berbasis data.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.