Akhir 2024 lalu, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan yang mengundang kontroversi. "Enggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestation, namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan?" tutur Prabowo saat menghadiri Musyawarah Pembangunan Nasional.
Pernyataan itu mengundang kekhawatiran sejumlah aktivis lingkungan terkait dengan risiko deforestasi dan konflik agraria berkepanjangan. Ucapan tersebut seolah memberi isyarat bahwa pembukaan lahan untuk perkebunan sawit akan terus terjadi.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), dalam wawancara dengan BBC Indonesia, menduga pernyataan Prabowo berkaitan dengan ambisi pemerintah menggencarkan produksi biodiesel yang telah digaungkan sejak kampanye Pilpres 2024 silam.
"Tetapi pernyataan bahwa sawit tidak terhubung langsung dengan deforestasi itu keluar dari mulut seorang presiden, itu mengejutkan," kata pengkampanye hutan dan kebun Walhi, Uli Arta Siagian, kepada BBC Indonesia, dikutip pada Kamis (11/12/2025).
Hampir setahun setelahnya, kekhawatiran pegiat lingkungan menjadi kenyataan. Siklon Senyar yang menghempas Pulau Sumatra telah memporak-porandakan tiga provinsi di pucuk Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengatakan siklon Senyar seharusnya tidak memiliki level katastropik yang tinggi. Mengingat energi siklon Senyar terbilang rendah. “Kontribusi cuaca ekstrem sekitar 20 persen,” cuit Erma dalam akun resmi X-nya, dikutip pada Kamis (11/12/2025).
Deforestasi atau penggundulan hutan dinilai menjadi biang keladi yang memperparah siklon Senyar. Laporan MapBiomas Indonesia kepada IDN Times menyebutkan laju deforestasi di tiga provinsi terdampak meningkat hingga tiga kali lipat sepanjang 2024-2025.
Luas hutan di Provinsi Aceh turun dari 3.413.709 hektar menjadi 3.395.970 hektar. Sementara kebun kelapa sawit di provinsi ini mengalami peningkatan signifikan, dari 455.250 hektar menjadi 628.697 hektar.
Sumatra Barat mengalami penyusutan lahan hutan dari 2.424.687 hektar menjadi 2.400.294 hektar. Sementara luas perkebunan kelapa sawit melonjak dari 515.253 hektar menjadi 569.183 hektar. Hal serupa terjadi di Provinsi Sumatra Utara yang mengalami lonjakan luas lahan kebun sawit, dari 1.972.640 hektar menjadi 2.115.976 hektar.
“Deforestasi memang melonjak. Ini menjadi penanda terakhir bahwa kita tidak boleh lagi merusak hutan alam, sekaligus menjadi lonceng untuk memulihkan daerah-daerah yang sudah rusak,” kata Team Leader MapBiomas Indonesia, Timer Manurung, dikutip dari IDN Times, Kamis.

Kebun Sawit Tak Sekuat Hutan Alami
Lantas apakah kelapa sawit dapat menggantikan peran hutan seperti yang dikatakan Prabowo? Dosen ekologi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Santhyami, S.Si., M.Si., menjelaskan kelapa sawit tidak dapat menggantikan fungsi hutan alami.
Kelapa sawit termasuk dalam jenis tumbuhan yang memiliki akar serabut. Akar tersebut hanya mampu menancap sedalam 50 sentimeter ke tanah. Berbeda dengan tumbuhan berakar tunggang yang mampu menancap hingga 5 meter ke dalam tanah.
Akar serabut kelapa sawit tidak cukup kuat untuk menggemburkan tanah. Alhasil tanah tidak memiliki rongga yang cukup sebagai jalan masuk udara dan air. Dampaknya pun terasa saat hujan deras, air tidak dapat langsung menyerap ke dalam tanah.
“Dia (kelapa sawit) tidak bisa menyimpan air atau mengikat air lebih baik dibandingkan dengan jenis-jenis pohon kayu. Seperti meranti, pohon pulai, atau pohon-pohon lainnya,” ujar perempuan yang akrab disapa Santhy itu, Jumat (12/12/2025).
Kelapa sawit tergolong tumbuhan yang arogan sebab hanya dapat dibudidayakan secara monokultur. Jika dibudidayakan bersama tumbuhan keras dalam satu lahan yang sama, kelapa sawit akan kalah saing. “Akar kelapa sawit tidak mampu menyerap nutrisi dalam jumlah besar seperti tumbuhan berbatang keras,” tambahnya.
Sistem monokultur kelapa sawit, kata Santhyami, membuat kebun sawit tidak memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah. Berbeda dengan hutan alami yang memiliki berbagai jenis tumbuhan. Kekayaan flora hutan memungkinkan terciptanya relung atau niche, yakni posisi yang ditempati oleh spesies hewan dalam komunitas hutan.
“Ada burung yang hanya tinggal di lapisan pohon paling tinggi, ada yang di tengah, itu juga dengan mamalia dan jenis fauna lainnya,” jelasnya.
Pembudidayaan kelapa sawit pun tergolong boros lahan. Tidak seperti hutan yang memiliki kerapatan tinggi. Satu hektar lahan kebun sawit hanya dapat ditanami 140-150 kelapa sawit tergantung pada tingkat kerapatan pohon. Sementara hutan alami dapat menampung 1.500 sampai 2.500 pohon dalam luasan lahan yang sama.
Kondisi tersebut membuat pembukaan lahan sawit tidak lepas dari deforestasi. Hal ini mengingat kebun kelapa sawit membutuhkan lahan dalam jumlah luas untuk meraup cuan maksimal. Di sisi lain, pemberian konsesi hutan kepada perusahaan sawit kian mengancam fungsi ekologis hutan. Baik sebagai paru-paru dunia, maupun ruang hidup flora dan fauna.
Kebun sawit hanya mampu menyerap 40-60 megagram karbon per satu hektar lahan. Sementara hutan alami mampu menyerap 160-220 megagram karbon per hektar. “Jadi sangat jomplang perbandingan dengan hutan alami,” tambah dia.

Dorong Agroforestri Lahan Sawit
Santhyami menegaskan pembukaan lahan sawit tidak boleh dilakukan pada hutan konservasi. Sebab, hutan konservasi berfungsi untuk melindungi keanekaragaman hayati, konservasi air, dan stok karbon alias paru-paru dunia.
Pengembangan kebun sawit dapat dilakukan pada lahan kritis, lahan datar, atau lahan yang ditinggalkan. Cara lainnya dapat dilakukan dengan skema agroforestri yang memadukan tanaman hutan (pohon) dengan tanaman pertanian lainnya. “Cara ini melibatkan para petani,” kata dosen Pendidikan Biologi UMS itu.
Agroforestri pun memiliki kemampuan menyerap karbon yang lebih baik dibandingkan kebun sawit monokultur. “Sekitar 70 sampai 110 megagram karbon per hektar,” imbuhnya.
Sistem agroforestri dapat dilakukan dengan membudidayakan tumbuhan lain, seperti pohon kakao atau pohon alpukat. Cara ini membuat petani tidak bergantung pada satu jenis tanaman.
Kebun monokultur memiliki kelemahan dalam menghadapi serangan hama tanaman. Risiko hama tersebut, kata Santhy, berpotensi menyerang seluruh tanaman sejenis dalam satu kebun monokultur. Berbeda dengan agroforestri yang memungkinkan petani dapat memanen rupiah dari komoditas lainnya.
Dengan cara demikian, kebun kelapa sawit dapat lebih inklusif dengan melibatkan peran petani. Di saat bersamaan, industri kelapa sawit tetap dapat menyerap karbon lebih baik tanpa melupakan fungsi ekologi hutan.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







