Teriknya matahari Agustus tidak menyurutkan semangat para pelapak menggelar dagangannya di sekitar Alun-Alun Keraton Kasunanan Surakarta. Para pelapak mengular di bibir Jalan Alun-Alun Utara sejak siang hingga malam. Mereka menyongsong perayaan Maulid Nabi Muhammad dalam kegiatan Sekaten.
Sekaten merupakan kegiatan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dipelopori Sunan Kalijaga saat mendakwahkan Islam di Tanah Jawa pada abad ke-15. Enam abad berselang, tradisi Sekaten masih dipertahankan oleh Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Penghulu Tafsir Anom Keraton Kasunanan Surakarta sekaligus Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta, Kanjeng Raden Aryo Tumenggung Muhammad Muhtarom, mengatakan tradisi Sekaten berasal dari kata syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat. “Orang Jawa kesulitan mengatakan syahadatain sehingga mereka menyebutnya sekaten,” tutur pria yang akrab disapa Muhtarom itu di kediamannya, Rabu (4/9/2024).
Di Kasunanan Surakarta, Sekaten ditandai dengan para niyaga–sebutan untuk penabuh gamelan–yang menabuh gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di pelataran Masjid Agung Surakarta. Kedua gamelan ditabuh secara bergantian selama sepekan mulai pukul 14.00 WIB hingga petang hari.
Muhtarom menjelaskan sebelum memulai rangkaian Sekaten, para abdi dalem menggelar selamatan di dalam Keraton Kasunanan Surakarta. Mereka kemudian memboyong kedua gamelan tersebut menuju Masjid Agung Surakarta tersebut pada Senin (9/9/2024).
Kedua gamelan tersebut adalah pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta. Mengutip laman warisanbudaya.kemendikbud.go.id, gamelan Kyai Guntur Madu merupakan peninggalan Pakubuwana IV yang dibuat pada 1796 yang ditandai dengan sengkalan Naga Raja Nitih Tunggal. Sedangkan gamelan Kyai Guntur Sari, berada di Bangsal Pradangga sebelah utara melambangkan syahadat Rasul. Kyai Guntur Sari merupakan peninggalan Sultan Agung Hanyokrokusumo dibuat pada 1644.
Gamelan Kyai Guntur Madu adalah gamelan yang pertama kali ditabuh. Para niyaga memainkan gending Rambu. Kata “rambu” berasal dari bahasa Arab “robbuna” yang berarti Allah Tuhanku. Gending ini memberi isyarat ditabuh khusus sebagai penghormatan kepada Tuhan.
Sedangkan gamelan Kyai Guntur Sari memainkan gending Rangkung yang berasal dari bahasa Arab “roukhun” yang memiliki arti jiwa besar atau jiwa yang agung. Dalam kerata basa bahasa Jawa, rangkung memiliki arti barang kakung yang merujuk pada sosok Nabi, Khalifah, dan Raja-Raja Mataram yang kesemuanya laki-laki.
Rangkaian Sekaten akan mencapai puncaknya pada Senin (16/9/2024) dengan diaraknya dua buah gunungan dari Kori Kamandungan menuju pelataran Masjid Agung Surakarta oleh para abdi dalem keraton.
Kedua gunungan tersebut berisi hasil bumi dan beberapa jenis panganan tradisional. Setibanya gunungan di pelataran masjid, para penghulu akan membacakan doa sebelum akhirnya diperebutkan masyarakat yang hadir. Rangkaian kegiatan memboyong gunungan itu bernama Hajad Dalem Garebeg Mulud.

Penjaja Dagangan Bermakna
Setiap kali Sekaten dihelatkan, banyak pedagang berduyun-duyun membuka lapak di sekitar Alun-Alun Keraton Kasunanan Surakarta. Di antara berbagai jenis dagangan, ada beberapa barang yang khas dijual di area Sekaten, yakni dolanan atau mainan tradisional, celengan, endhog kamal atau telur asin, dan pecut. Muhtarom menyebut setiap barang mempunyai filosofi dan menjadi bagian integral dari Sekaten.
Mainan tradisional atau dolanan merepresentasikan dunia yang hanya tempat bermain. Hal ini selaras dengan Surah Muhammad ayat 6 yang berbunyi “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta hartamu.”

KIRI: Foto mainan tradisional atau dolanan di area Sekaten. KANAN: Foto celengan yang merepresentasikan upaya menabung amal. Humas UMS/Gede Arga Adrian
“Karena permainan belaka, umat Islam harus berpikir agar tidak menjadi obyek permainan, melainkan sebagai subyek permainan dalam kehidupan,” terang Muhtarom.
Celengan dimaknai sebagai upaya manusia “menabung” amal selagi hidup di dunia sebagai bekal menuju akhirat. Sedangkan pahala direpresentasikan dengan telur asin atau endhog kamal.
Sedangkan pecut memiliki filosofi untuk memacu manusia agar terus beramal saleh. “Manusia diberi nafsu oleh Allah dan memiliki sifat menggerakkan. Maka harus dipecut untuk menggerakkan manusia dalam melakukan hal-hal baik,” terusnya.

Seorang anak tengah melihat mainan tradisional yang dijajakan di area Sekaten. Humas UMS/Gede Arga Adrian
Tabuhan Kehidupan Gamelan
Layaknya budaya Jawa lain yang sarat filosofi dan makna, Sekaten juga tak lepas dari kedua hal itu. Obrolan kami saat itu dengan Muhtarom semakin seru saat membahas segudang makna dalam Sekaten.
Filosofi itu bermula saat manusia mengucapkan syahadat dan memasuki gapura masjid. Gapura berasal dari bahasa Arab ghofuro yang berarti pengampunan. Artinya, manusia yang memasuki kawasan masjid sudah dalam keadaan suci dari segala dosa di masa lalu.
Hal ini selaras dengan Hadis Riwayat Bukhari “Apabila seseorang masuk Islam kemudian Islamnya menjadi baik, niscaya Allah akan menghapus segala kejahatan yang telah dilakukan. Setelah itu, ia akan diberi balasan yaitu setiap kebaikannya akan dibalas Allah sepuluh sampai tujuh ratus kali. Sedangkan kejahatannya dibalas (hanya) setimpal kejahatannya itu, kecuali jika Allah memaafkannya.”
Begitu memasuki gapura, masyarakat dapat melihat dua bangunan joglo kecil di sisi kanan dan kiri gapura. Kedua tempat ini digunakan untuk menaruh dan memainkan gamelan selama sepekan jelang Grebeg Mulud.
Terdapat dua jenis gamelan, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari yang melambangkan laki-laki dan perempuan. Kedua jenis gamelan ini merupakan pemaknaan kekuasaan Allah SWT yang menciptakan manusia berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. Dari sanalah manusia beranak pinak dan melahirkan keturunan.
Kedua gamelan tersebut ditempatkan di pelataran masjid dekat gapura Masjid Agung Surakarta. Di masa lalu, tujuan penempatan gamelan di pelataran masjid adalah untuk menarik minat masyarakat yang belum memeluk Islam sekaligus media dakwah Islam.
Teknik bermain kedua jenis gamelan ini pun mempunyai filosofi yang menarik. Kedua gamelan tidak ditabuh bersamaan, melainkan secara bergantian. Tujuannya untuk menciptakan keharmonisan dan keselarasan agar para pendengar dapat menikmati musik secara lebih jelas.
“Tidak saur manuk,” ujar Muhtarom. Filosofi teknik menabuh ini juga direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. “Dalam rumah tangga misalnya, ketika suami marah maka istri mendengarkan. Begitu juga sebaliknya. Maka akan terjadi sinkronisasi dan saling melengkapi.”
Saat gamelan ditabuh, manusia yang sudah dalam keadaan suci usai bersyahadat kemudian berebut janur yang menggantung di sekitar tempat menabuh gamelan. Janur berasal dari bahasa Arab ja’a nur yang berarti “celah datang cahaya”. Cahaya ini direpresentasikan sebagai hidayah yang dicari manusia di sepanjang hidupnya.
Pengorbanan dalam Nginang
Salah satu tradisi yang identik dengan Sekaten adalah mengunyah sirih atau yang lazim disebut menyirih atau nginang. Orang yang menyirih akan mengonsumsi lima jenis bahan, yakni daun sirih, daun gambir, tembakau, kapur atau injet, dan bunga kantil. Muhtarom menyebut setiap bahan memiliki filosofi yang mewakili lima rukun Islam.
Daun sirih memiliki rasa getir dan menyimbolkan orang yang hendak mualaf dengan mengucap syahadat. Ujian pertama seseorang yang akan masuk Islam adalah melepas keduniawiannya.
“Orang membaca syahadat itu getir. Penuh dinamika, tantangan, dan ujian,” ujar Muhtarom. Dia mencontohkan bila seseorang sudah memiliki status sosial yang tinggi, jaringan ekonomi yang luas, dan mapan lalu menjadi seorang mualaf, apakah mereka siap jika kehilangan capaian yang mereka miliki. “Walaupun getir, itu bagian dari rukun Islam.”
Daun gambir dengan rasa pahitnya merepresentasikan salat, terutama bagi seorang mualaf. Sebab, rutinitas salat adalah tantangan tersendiri yang harus dijalani seorang manusia sebagai bentuk kewajiban kepada sang Maha Kala. Muhtarom bahkan menyinggung balasan yang Allah beri atas ibadah salat seringkali tidak diterima manusia saat itu juga.
Meskipun tidak dikonsumsi, tembakau dengan rasanya yang pahit juga mempunyai filosofi, yakni zakat. Muhtarom mengatakan zakat dan sedekah sama-sama memiliki arti membagi harta yang dimiliki kepada orang lain yang membutuhkan. Penggunaan tembakau yang hanya diratakan pada seluruh gigi merepresentasikan zakat dan sedekah. “Sedekah diibaratkan tembakau. Artinya meratakan. Jangan dikonsumsi sendiri,” imbuhnya.
Puasa direpresentasikan melalui kapur atau injet. Rasa pahitnya mewakili orang-orang yang harus berpuasa, menahan godaan dan hawa nafsu selama satu bulan lamanya.
Bunga kantil menggambarkan orang-orang yang sudah berhaji. Wangi semerbak dari bunganya merepresentasikan umat Islam yang telah menjalani rukun Islam. Menjadikan pribadi yang lebih baik setelah melalui berbagai kepahitan dan ujian yang dijalani. “Orang yang sudah haji itu menjadi contoh. Harum seperti bunga kantil,” tambah dia.
Segudang Rezeki Gunungan

KIRI: Gunungan tengah dibawa menuju Masjid Agung Surakarta. KANAN: Masyarakat tengah memperebutkan gunungan jalu atau kakung di pelataran Masjid Agung Surakarta. Humas UMS/Gede Arga Adrian
Rangkaian Sekaten mencapai puncaknya saat dua buah gunungan diarak dalam Hajad Dalem Garebeg Mulud yang digelar bertepatan dengan hari lahir Rasulullah SAW. Kedua jenis gunungan ini bernama gunungan jalu dan gunungan estri.
Gunungan jalu atau kakung merupakan gunungan berbentuk kerucut yang memuat hasil bumi seperti kacang panjang, cabai, wortel, dan umbi-umbian. Gunungan ini melambangkan sosok laki-laki yang harus mencari nafkah untuk keluarganya.
“Seorang laki-laki harus menjadi pengayom dan mencukupi kebutuhan keluarganya melalui makanan pokok,” jelasnya.
Sedangkan gunungan estri memiliki ornamen berupa makanan jadi, seperti rengginang dan kue ketan. Gunungan estri melambangkan sosok perempuan atau istri dalam rumah tangga yang harus mampu mengolah hasil bumi dan nafkah dari suami untuk keluarga.
“Perempuan harus mampu me-manage keuangan. Berapapun penghasilan suami harus mampu dikelola dengan baik,” sambung Penghulu Tafsir Anom itu.
Kedua gunungan itu diarak menuju halaman Masjid Agung untuk dibacakan doa sebelum akhirnya diperebutkan masyarakat. “Yen wis kedonganan baginen kang warata (kalau sudah didoakan, bagilah secara merata),” ujar dia.
Namun, dia melihat ada pergeseran pemahaman masyarakat terhadap pembagian gunungan tersebut. Gunungan seharusnya dibagi secara merata tanpa perlu berebut. Dia menyayangkan konsep berebut gunungan yang lazim dilakukan masyarakat saat ini. “Rebutan itu bukan budaya kita. Esensinya bukan budaya kita,” ucap Muhtarom.
“Konsepnya itu kan qanaah. Mulialah orang yang memiliki sifat qanaah dan celakalah orang yang memiliki sifat tamak.”
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







