Suhu dingin pada malam hingga pagi hari terasa di sejumlah wilayah di Indonesia beberapa hari terakhir. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu dingin terpantau menerjang wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Kondisi ini tampaknya kian menyita perhatian publik, pasalnya suhu dingin saat ini berlangsung di tengah puncak musim kemarau 2024. Tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan fenomena aphelion. Benarkah demikian? Apa penyebab utama terjadinya suhu dingin?
Penyebab Suhu Dingin
Fenomena suhu dingin yang kini terjadi dijuluki “bediding” oleh sebagian masyarakat Jawa. Bediding adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti “terasa dingin”. Istilah bediding lazim digunakan masyarakat kala menggambarkan kondisi penurunan suhu udara yang sangat drastis sehingga terasa dingin, kendati Indonesia tengah berada pada musim kemarau.
Peneliti Pusat Studi Lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dra. Alif Noor Anna, M.Si. mengungkapkan saat musim kemarau, minimnya tutupan awan menyebabkan sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa penghalang. Kondisi ini menyebabkan adanya peningkatan suhu, tak heran pada siang hari matahari terasa lebih terik.
“Sementara, tanpa tutupan awan pada malam hari memungkinkan radiasi panas dari permukaan bumi terlepas ke atmosfer tanpa halangan. Akibatnya ada penurunan suhu yang signifikan,” jelasnya.
Ia menambahkan angin yang tenang pada malam hari menghambat pencampuran udara, membuat udara dingin terperangkap di permukaan bumi.
Seperti dilansir Kompas.com, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardhani membantah kabar suhu dingin di Indonesia belakangan merupakan imbas dari fenomena aphelion.
Ida menuturkan aphelion adalah fenomena astronomis tahunan yang terjadi pada kisaran bulan Juli. Saat aphelion terjadi, posisi matahari berada pada titik jarak terjauh dari bumi.
“Meskipun posisi matahari ada pada jarak terjauh dari bumi, hal itu tak memberikan pengaruh signifikan pada cuaca atau fenomena atmosfer di permukaan bumi,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (16/7/2024).
Dilansir Detik.com, BMKG menyatakan suhu dingin merupakan fenomena alamiah yang lumrah terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau pada Juli-Agustus. Periode ini ditandai juga dengan pergerakan angin dari arah timur-tenggara yang berasal dari Benua Australia. Saat bulan Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin.

“Fenomena angin tersebut kita kenal dengan istilah angin monsun. Karena sedang musim dingin, tekanan udara di Australia menyebabkan pergerakan massa udara menuju Indonesia melewati perairan Samudra Hindia, yang mana suhu permukaan lautnya relatif rendah. Kondisi demikian memicu penurunan suhu, terutama bagian selatan khatulistiwa,” ujar dosen Geografi UMS itu.
Angin monsun tersebut bersifat kering dan sedikit membawa uap air, sehingga bisa menimbulkan suhu dingin pada malam hingga dini hari, namun tak menurunkan air hujan.
Suhu Dingin Dipengaruhi Beberapa Faktor
“Menilik data BMKG, tepatnya 2 Juli 2024, suhu di Dieng mencapai 1 derajat Celcius. Tak mengherankan, karena memang wilayah yang terasa lebih dingin itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: posisi geografis; kondisi topografis; ketinggian wilayah; dan kelembapan udara,” kata pakar geografi fisik dan hidrologi UMS itu.
Anna menjelaskan secara gamblang bahwasanya posisi geografis Dieng yang berada di dataran tinggi membuat wilayah tersebut lebih rentan terhadap suhu dingin. Kondisi topografis yang berbukit-bukit juga menyebabkan akumulasi udara dingin di lembah-lembah, yang mengakibatkan penurunan suhu lebih ekstrem dibandingkan dengan daerah sekitarnya.
Ketinggian wilayah pun turut berperan besar dalam menurunkan suhu. Semakin tinggi suatu wilayah dari permukaan laut, maka semakin rendah suhu udaranya. Selain itu, kelembapan udara yang rendah pada malam hari mempercepat pendinginan permukaan bumi.
Republika.co.id melansir Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat dilaporkan membeku di puncak musim kemarau pada Juli 2024. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mencatat suhu mencapai 0 derajat Celcius. Kawasan alun-alun Suryakancana membeku akibat suhu udara yang menurun tajam terutama pagi hari. Pendaki juga diimbau untuk tetap berhati-hati dan mengenakan perlengkapan sesuai standar agar tak mengalami hipotermia.
“Dalam lingkup ilmu geografi, memang kondisi udara yang kering di dataran tinggi menyebabkan panas lebih cepat terlepas, sehingga suhu turun dengan drastis,” tutur Anna menegaskan.
Suhu Dingin Kapan Berakhir?
Dilansir Tirto.id, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto membeberkan fenomena suhu dingin ini biasanya terjadi di puncak musim kemarau pada bulan Juli-Agustus, dan kadang-kadang dapat berlangsung hingga September. Ini merupakan bagian dari siklus tahunan yang biasanya akan berakhir seiring dengan berakhirnya musim kemarau di Indonesia.
Meskipun suhu dingin ini adalah fenomena alamiah, durasinya dapat bervariasi tergantung pada kondisi cuaca dan perubahan musiman yang lebih luas. Untuk itu, Anna mengimbau masyarakat untuk tak menyepelekan suhu dingin, serta tetap mengenakan pakaian hangat kala udara dingin mulai menjalar ke seluruh tubuh.
“Selain mengenakan pakaian hangat, penting pula untuk menjaga kesehatan dengan konsumsi makanan bergizi, minum cukup air, rutin untuk berolahraga, dan terakhir istirahat yang cukup,” anjurnya mengakhiri.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







