Suhu panas yang menerpa berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa pekan lalu cukup menimbulkan keluhan dari masyarakat. Kini, cuaca nampaknya mulai berubah. Awan menebal di ufuk sore dan hujan pun mulai turun.
Menurut dosen klimatologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Drs. Yuli Priyana, M.Si., perubahan cuaca yang terjadi saat ini merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia sudah memasuki periode transisi atau pancaroba menuju musim hujan.
“Peningkatan frekuensi hujan, terutama setelah periode panas di Solo dan sekitarnya pada bulan Oktober ini, sangat besar kemungkinannya merupakan indikasi bahwa wilayah tersebut sedang berada dalam masa pancaroba menuju musim hujan,” ujar jelas dosen Fakultas Geografi UMS itu secara daring, Kamis (23/10/2025).
Pancaroba adalah periode peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Biasanya ditandai dengan cuaca tidak menentu, panas terik di siang hari, namun bisa disertai hujan lebat, petir, atau angin kencang pada sore hingga malam.
Gerak Semu Matahari dan Transisi Musim
Suhu panas yang terjadi kemarin, lanjut Yuli, berkaitan langsung dengan posisi semu matahari yang sedang melintas di langit wilayah selatan Indonesia. Dalam ilmu astronomi, pergerakan ini disebut gerak semu matahari, yaitu pergeseran posisi matahari seolah-olah berpindah dari utara ke selatan ekuator dan sebaliknya sepanjang tahun.
“Pada periode September hingga Oktober, posisi matahari bergerak ke arah selatan, tepat melintas di sekitar Pulau Jawa dan Bali. Ketika posisi itu terjadi dan langit sedang cerah, radiasi sinar matahari yang diterima permukaan bumi menjadi maksimal,” jelas dia. Akibatnya, suhu udara melonjak, dan udara terasa jauh lebih panas dari biasanya.
Fenomena tersebut akan berulang setiap tahun. Ketika posisi matahari berada di atas lintang selatan, daerah yang berada di sekitar garis edar tersebut akan menerima energi matahari lebih banyak. Tanpa adanya tutupan awan yang signifikan, sinar matahari menembus langsung ke permukaan tanah, memanaskan udara di atasnya, dan memunculkan sensasi panas seperti yang dirasakan beberapa minggu terakhir.
Selain gerak semu matahari, pancaroba atau masa transisi musim juga menjadi penyebab meningkatnya suhu udara di sejumlah wilayah. “Sekarang kita berada di masa pancaroba. Siang bisa didominasi oleh panas dari radiasi matahari, sementara sore hingga malam mulai muncul potensi pembentukan awan konvektif yang bisa menimbulkan hujan lokal,” terang Yuli.
Menyambut Musim Hujan
Musim hujan terjadi pada bulan Oktober 2025 di sebagian besar wilayah Jawa Tengah, termasuk Surakarta. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip Yuli, wilayah tersebut kemungkinan besar sudah berada di fase awal musim hujan.
“Ketika hujan sudah mulai sering turun, energi panas dari matahari sebagian besar akan diserap dan tersebar oleh awan serta uap air. Itu yang membuat suhu udara menjadi lebih sejuk dan stabil,” jelasnya.

Meski hujan mulai sering turun, Yuli menjelaskan bahwa cuaca tak langsung stabil. Kita tak bisa memastikan hujan akan turun terus-menerus. Secara ilmiah, potensi hujan memang meningkat karena kita memasuki awal musim hujan, tetapi masih ada hari-hari kering bahkan panas.
“Awal musim hujan, curah hujan biasanya lebih dominan di sore hingga malam hari. Hal ini disebabkan oleh pemanasan kuat di pagi dan siang hari yang meningkatkan penguapan dan membentuk awan konvektif seperti kumulonimbus,” imbuh Yuli.
Perkiraan cuaca dari BMKG menyebutkan bahwa puncak musim hujan akan terjadi pada Januari hingga Februari 2026. Lantaran sudah memasuki awal musim hujan, maka frekuensi dan intensitas hujan akan cenderung meningkat secara bertahap, dan akan lebih konsisten di bulan-bulan puncak musim hujan.
Potensi Suhu Panas Masih Mungkin Terjadi
Meskipun sudah musim hujan, potensi cuaca panas di siang hari masih sangat mungkin terjadi, terutama pada pagi hingga siang menjelang sore. Ini adalah karakteristik dari masa transisi dan awal musim hujan di Indonesia.
“Jika pada pagi hari hingga siang hari langit cerah atau berawan tipis sekali , sinar matahari akan diterima secara optimal oleh permukaan bumi. Kemudian jika kelembaban udara yang sudah meningkat dan ada awan justru dapat membuat rasa panas (gerah) menjadi lebih menyengat,” kata Yuli.
Hal tersebut terjadi karena panas yang diterima oleh bumi dipancarkan ke atmosfer. Namun, pancaran itu malah terhalang awan sehingga udara yang dekat dengan permukaan bumi menjadi panas.
Perubahan cepat dari panas ke lembap juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat. Yuli mengingatkan agar masyarakat menjaga daya tahan tubuh, memperbanyak minum air putih, dan menghindari paparan matahari langsung saat intensitas UV tinggi.
“Perbanyak minum air putih, jangan menunggu haus,” imbaunya. Terakhir, masyarakat disarankan untuk tetap menjaga asupan buah serta sayuran untuk membantu tubuh beradaptasi dengan suhu lingkungan.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







