Apa Itu NPD?
Ciri-ciri NPD dan Penyebabnya
Mengelola dan Menangani NPD

"Setelah punya temen yang sangat-sangat narsis dan mungkin dia punya NPD, kalau ketemu atau ngobrol tuh bawaannya depresi dan pengen muntah. Kenapa? Karena setelah ngomongin achievement, dia pasti ngomongin lowest point hidupnya. I don't care!."

"Hidup isinya bukan kamu doang, nggak usah merasa paling spesial! Nangis banget ngetawain orang NPD.  Mual-mual ngeliatin kelakuannya. GWS! Wkwkwk."

"They are real! They abuse, brainwash and hijack your brain, also manipulate you to live on their fantasy!."

Cuitan beberapa akun X sungguh benar adanya. Mereka yang berteman karib dengan “si narsistik”, sering geram dan mengalami hal-hal yang tak menyenangkan dari “si narsistik” atau yang dikenal sebagai penderita Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Sering kali kita mendengar istilah "narsistik", yang lazim digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu fokus pada dirinya sendiri, haus akan perhatian dan kekaguman. Namun istilah tersebut punya makna yang jauh lebih memprihatinkan ketika kita berbicara dalam konteks medis.

"Narcissistic Personality Disorder atau gangguan kepribadian narsistik merupakan suatu kondisi psikologis yang serius. Penderitanya pun tak akan sadar bahwa dirinya menderita NPD," terang pakar psikologi klinis dan kesehatan mental Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Fiska Puspa Arinda, M.Psi., Psikolog..

Apa Itu NPD?

Narsistik atau Narcissistic Personality Disorder adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan perasaan superioritas yang tak realistis, kebutuhan yang sangat besar untuk dikagumi, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Orang dengan kepribadian NPD acapkali merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, dan berhak mendapatkan perlakuan istimewa tanpa alasan yang jelas.

“Penderita NPD bisa sangat sensitif terhadap kritik atau kekalahan, bereaksi dengan sikap meremehkan dan menantang, bahkan bisa bersikap rendah hati sebagai topeng dari perilaku “kebesarannya” tersebut,” tambah dosen Pendidikan Profesi Psikologi UMS itu.

Fiska menekankan pula bahwa sifat narsis tidak sama dengan gangguan kepribadian narsistik. Seseorang dapat dikatakan memiliki gangguan NPD apabila sifat-sifat narsis tersebut maladaptive (penyesuaian diri yang negatif), persisten hingga menyebabkan gangguan fungsi secara psikologis yang signifikan.

“Misalnya sifat narsis pada remaja, itu adalah hal yang wajar dan tidak selalu berkembang menjadi gangguan kepribadian narsistik,” jelasnya.

Ciri-ciri NPD dan Penyebabnya

Mengacu buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Illnesses atau DSM-5 (panduan untuk menetapkan diagnosis gangguan mental oleh American Psychiatric Association), Fiska menyebutkan beberapa ciri seorang penderita NPD sebagai berikut:

  • Memiliki perasaan penting dan superioritas
  • Terobsesi dengan fantasi kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan atau cinta yang sempurna tanpa batas
  • Percaya bahwa mereka adalah orang “istimewa” dan hanya dapat dipahami oleh orang-orang istimewa lainnya
  • Memiliki kebutuhan berlebihan untuk dikagumi
  • Memiliki harapan untuk selalu diperlakukan istimewa
  • Menyalahgunakan orang lain untuk mencapai tujuannya sendiri (manipulatif)
  • Minimnya empati terhadap orang lain
  • Mudah iri pada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri terhadap mereka
  • Menunjukkan perilaku arogan

“Diagnosis dapat ditegakkan minimal lima kriteria terpenuhi dan berdasar dari beberapa sumber atau metode serupa psikotes, wawancara, dan observasi,” ujar Psikolog Biro Konsultasi dan Pemeriksaan Psikologis (BKPP) UMS itu.

Senada dengan pernyataan American Psychiatric Association (APA), ciri-ciri NPD mudah untuk dikenali. Tak jarang, perilaku-perilaku spontan yang ditunjukkan membuat mereka sulit memiliki hubungan yang sehat. Sebab penderita gangguan kepribadian narsistik tidak menyadari bahwa perilaku mereka tidak normal atau menyakiti orang lain.

“Mereka justru terlampau sering menyalahkan orang lain atas masalah yang mereka hadapi,” lanjutnya.


Cleveland Clinic melansir hingga kini belum ada penyebab pasti dari NPD. Namun ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan gangguan ini. Pertama, genetik, faktor ini membuat seseorang lebih rentan terhadap NPD. Kedua, observasi dan imitasi dari lingkungan sekitar. Ketiga, pengalaman masa kecil yang negatif (trauma, penolakan, minimnya dukungan). Keempat, pola pengasuhan yang overprotective atau helicopter parenting; dan kelima, budaya yang lebih individualis.

“Sebagai contoh, pola asuh yang terlalu memanjakan atau sebaliknya, mungkin juga dari budaya individualis yang ditemui di lingkungan sekolah, tempat kerja dan lain sebagainya,” tutur Fiska.

Mengelola dan Menangani NPD

NPD merupakan gangguan kepribadian yang menetap dan tidak dapat sembuh. Kendati demikian, berbagai metode terapi dapat membantu si penderita untuk mengelola gejala-gejalanya. 

“Bisa melalui terapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Dialectical Behavioral Therapy (DBT), atau family therapy, serta pengobatan medis yang tepat. Terapi-terapi ini fokus membantu penderita untuk mengenali pola pikir dan perilaku negatif. Mereka akan berlatih mengembangkan kebiasaan yang lebih “sehat” dalam berinteraksi dengan orang lain,” jelasnya.

Dampak dari NPD tak hanya dirasakan oleh si penderita saja, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Berurusan dengan orang-orang NPD memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati. Menetapkan batasan yang sehat dan menjaga ketenangan adalah kunci untuk menghindari manipulasi emosional. 

Meski tak pernah secara langsung menangani pasien dengan gangguan NPD, psikolog BKPP UMS itu berbagi pengalamannya ketika berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan ke arah gangguan NPD.

“Hal yang paling dicari orang-orang NPD itu adalah validasi. Karena merasa istimewa, mereka berharap orang lain akan meladeni mereka,” katanya berterus terang. 

Terkadang penderita NPD bisa sangat manipulatif dan sulit dihadapi. Namun mereka tetaplah membutuhkan bantuan dan pemahaman. 

“Yang jelas, don’t take it personally! Supaya kita tidak mudah sakit hati atau merasa tidak berharga,” saran Fiska.

Langkah selanjutnya yang tak kalah penting dalam menghadapi si narsistik ialah menjaga diri. Menjaga diri untuk menghindari jebakan gaslighting—sebuah manipulasi halus yang kerap digunakan untuk membuat kita meragukan keyakinan dan merasakan kesalahan yang seharusnya tak kita tanggung.

Taktik gaslighting sering menjadi senjata para NPD yang berusaha mempertahankan dominasi emosional. Makanya, kita pun perlu mencari dukungan orang-orang sekitar yang dapat dipercayai, supaya mampu memelihara keseimbangan emosional dan tetap berpijak pada realitas.

Dengan kata lain, kita perlu tahu kapan saatnya beranjak pergi dan meninggalkan agar tak terbawa dinamika yang merusak. Mengingat kompleksitas gangguan kepribadian narsistik ini, kita tidak boleh mengesampingkan kesehatan mental kita sendiri, meski sedang tertatih-tatih mengelola hubungan dengan si penderita.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Penelitian

image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
11 April 2026

Kandungan gizi MPASI berkaitan dengan keputusan ibu. Pemberdayaan perempuan dan dukungan sosial menjadi kunci gizi buah hati terpenuhi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
6 Maret 2026

Penanganan bencana harus selaras dengan komunikasi bencana yang cepat, tepat, dan berempati pada korban. Mendukung pemulihan dan memberikan kepastian kepada masyarakat.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.