Lomba pacu jalur Kuantan Singingi, yang selama ini dikenal sebagai tradisi lokal masyarakat Riau, mendadak menjadi pusat perhatian publik. Lantaran video seorang bocah bernama Rayyan Arkan Dikha (11), yang menari penuh karisma di ujung haluan jalur viral dan menuai banyak pujian.
Dalam hitungan jam, video itu disebar ribuan kali, bahkan gerakan tari Dikha ditiru oleh maskot resmi klub sepak bola AC Milan. Tak berhenti di situ, pembalap andalan Ducati Lenovo, Marc Marquez turut meramaikan tren ini sebagai bentuk selebrasinya kala sukses meraih podium utama pada MotoGP Jerman 2025.
Koreografi atau tarian Dikha yang karismatik tersebut kemudian erat dikaitkan dengan istilah aura farming. Memangnya aura farming itu apa?
Istilah Aura Farming
Istilah aura farming merujuk pada usaha untuk membangun kesan penuh karisma atau “aura” pada seseorang. Dalam konteks media sosial, istilah ini digunakan untuk menyebut usaha atau cara seseorang agar terlihat sangat percaya diri, memikat, dan memiliki daya tarik visual yang kuat, baik secara natural maupun disengaja.
Namun, menurut dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Yudha Wirawanda, S.I.Kom., M.A., Dikha justru memancarkan aura secara genuine atau asli tanpa dibuat-buat.
“Dia tidak sedang tampil untuk media sosial, tidak tahu siapa audiensnya. Justru karena kealamian itulah auranya bisa terasa kuat,” kata Yudha saat ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Komunikasi dan Informatika UMS, Jumat (18/7/2025) siang.
Ruang Siber dan Tafsir Budaya
Yudha menyebut fenomena ini sebagai hasil interaksi budaya global yang terjadi di ruang siber. “Netizen dari berbagai negara bisa menafsirkan konten dengan kacamata budaya mereka. Apa yang dikira biasa di Kuantan Singingi, bisa terlihat magis bagi audiens internasional. Ini bukti bahwa budaya lokal memiliki daya tarik universal jika dikelola dengan cerdas,” tekan pakar kajian budaya dan media itu.
Namun Yudha mengingatkan bahwa viralitas semacam ini tidak bisa direkayasa. Ia menilai promosi budaya tidak cukup hanya dengan menonjolkan hal-hal unik secara artifisial. Menurutnya, keaslian, spontanitas, dan ekspresi yang alami justru menjadi kunci utama. Ia mencontohkan Dikha yang menjadi viral karena tampil secara natural dan tidak dibuat-buat.
Pemerintah daerah bahkan menyambut fenomena ini dengan tangan terbuka. Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat, menyebut ini sebagai momentum emas untuk mengangkat potensi wisata daerah. “Viralnya tarian bocah pacu jalur membuktikan kearifan lokal di Riau punya daya saing global,” katanya, dikutip Kompas.id, Jumat (18/7/2025).
Yudha menyarankan viralitas yang muncul secara organik dari masyarakat sebaiknya tidak langsung diformalisasi begitu saja oleh lembaga atau institusi tanpa pertimbangan matang. Ketika konten yang awalnya dianggap jujur dan spontan itu kemudian dibingkai dalam kepentingan ekonomi atau politik, respons dari masyarakat bisa berbeda.
Potensi Ekspansi Budaya Lokal
Meskipun benar adanya jika fenomena seperti ini dapat dimanfaatkan untuk strategi promosi budaya. Hanya saja prosesnya tidak boleh hanya mengandalkan sisi keunikan atau viral semata.
Menjaga keaslian ekspresi budaya menjadi hal penting agar tradisi seperti pacu jalur tidak sekadar diperlakukan sebagai komoditas dadakan. Sebaliknya, dukungan terhadap budaya lokal sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan menyeluruh.
“Pemerintah, dalam hal ini, perlu menyusun strategi komunikasi budaya yang lebih terarah, bukan sekadar riding the wave atau ikut tren sesaat,” kata dosen mata kuliah Media Baru itu.
Langkah awal seperti mengidentifikasi potensi budaya yang otentik atau punya daya tarik khas perlu digerakkan pemerintah pusat maupun daerah menurut Yudha. Potensi ini selanjutnya perlu diberdayakan serius, termasuk dalam hal dana, infrastruktur, dan pelatihan SDM agar pelaku budaya dan masyarakat lokal bisa mandiri.
Di sisi lain, perlu dilakukan riset pola selera digital audiens di ruang siber agar promosi tidak kontraproduktif. Adapun Yudha berharap adanya kolaborasi lintas sektor agar strategi komunikasi budaya tidak berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah daerah, komunitas seni, pelaku pariwisata, hingga masyarakat lokal harus berada dalam visi yang sama dan bergerak sinergis.
“Agar ketika momen viral positif serupa terjadi lagi, semua sudah dalam posisi siap tampil dan memberi kesan positif,” tandasnya.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Cerita Alumni
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








