Di hadapan kader Tapak Suci Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Nur Subekti, memandu jalannya latihan rutin. Agenda tersebut bertepatan dengan Hari Bertapak Suci yang rutin digelar setiap Kamis di Sport and Martial Art Center UMS.
Pria yang akrab disapa Bekti itu bercerita, selain melatih kader Tapak Suci UMS, ia juga melatih sejumlah atlet pencak silat yang akan berlaga dalam kejuaraan nasional. Proses latihan tersebut, katanya, menggunakan metode high-intensity interval training atau HIIT.
HIIT adalah metode latihan dengan intensitas sangat tinggi, interval istirahat yang singkat, dan dilakukan secara berulang. Dosen Pendidikan Jasmani UMS itu mengembangkan metode HIIT pada pencak silat sejak 2020. Model latihan khusus olahraga pencak silat ini dirancang untuk meningkatkan performa atlet kategori tanding.
Kala itu, Bekti menghadapi pandemi Covid-19 yang membuat proses latihan terkendala jarak. “Kita mau latihan di luar itu susah gitu kan. Anak-anak juga terbatas dan saya dituntut untuk mempersiapkan atlet bertanding di level nasional,” cerita Bekti saat kami mengunjungi pelaksanaan Hari Bertapak Suci, akhir Februari lalu.
Bekti kemudian mendesain ulang metode HIIT tersebut dengan memanfaatkan berat badan atlet yang dipadukan dengan intensitas tinggi. Namanya Bodyweight Exercise and Technique Intensive atau BEX-TI. Ia juga melibatkan sejumlah praktisi silat dan akademisi dalam pengembangan model latihan itu.

BEX-TI memainkan rasio intensitas latihan dan interval istirahat. Untuk tahap awal, atlet dapat berlatih dengan intensitas latihan yang rendah dan interval istirahat yang panjang. Seiring waktu, intensitas latihan pun bertambah dengan interval istirahat yang rendah.
“Adakalanya rasio itu saya tekan. Intensitasnya tinggi istirahatnya juga rendah untuk menekan kemampuan atletnya. Tapi repetisinya relatif sedikit,” imbuh Wakil Dekan III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS itu.
Bekti berkata metode tersebut merupakan hasil analisis kebutuhan pertandingan pencak silat. Ia menghitung kebutuhan waktu untuk melakukan serangan pukulan dan tendangan, lamanya pertandingan, dan jeda istirahat.
Ia juga menghitung jeda waktu yang tidak terhitung secara resmi dalam aturan pertandingan. “Normalnya pertandingan itu durasi bersihnya 2 menit. Ada waktu-waktu yang tidak dihitung padahal itu kebutuhannya. Ketika wasit ngomong berhenti, waktu pasti berhenti. Berarti kan ada waktu sisa itu, nah itu masuk dalam analisis saya,” jelas Bekti.
Metode BEX-TI kemudian ia terapkan untuk melatih anak didiknya menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2021. Hasilnya, dua anak didiknya, Anas Rais Arni Royhan dan Dela Kusumawati, berhasil meraih perunggu cabang olahraga pencak silat pada PON XX.
Keberhasilan itu membuat Bekti mengimplementasikan kembali metode BEX-TI pada kompetisi berikutnya. Kali ini Ginting Baharudin Putra sukses menjadi jawara. Ia berhasil meraih medali emas Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) XVIII 2022, medali perak PON XXI 2024, dan medali emas Asean University Games 2024.
Bekti kemudian mengajukan BEX-TI untuk disertasinya semasa menempuh studi Doktoral Ilmu Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS). Pada 2025 lalu, Bekti berhasil menamatkan studi doktoralnya. Ia juga memperkenalkan BEX-TI ke Malaysia dalam lawatan ke Department Physical Education and Sports Science Universiti Teknologi Malaysia.
Baca Juga: Memboyong Inovasi Latihan Pencak Silat BEX-TI Hingga Malaysia

Atlet Sedari Muda
Nur Subekti mengenal tapak suci sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah. Guru bahasa Inggrisnya sekaligus pelatih ekstrakurikuler tapak suci, Ari Prasmono, memperkenalkan Bekti pada seni bela diri khas Muhammadiyah itu.
Ari kala itu melihat Bekti memiliki bakat dalam olahraga bela diri. Di bawah bimbingan Ari, Bekti melesat mengikuti sejumlah perlombaan pencak silat. Mulai dari antarsekolah, kecamatan, hingga kabupaten.
Kegigihannya dalam menekuni bela diri terus berlanjut hingga SMA. Secara khusus, Ari, memperkenalkan Bekti pada sejumlah pelatih tapak suci jempolan di Kota Solo, Jawa Tengah. “Memang, Pak Ari mempunyai koneksi dengan para pelatih-pelatih di Solo,” kenang Bekti.
Dari perkenalan itu, alumni SMK Pancasila 3 Baturetno, Wonogiri, itu meraih juara pertama dalam Kejuaraan Daerah Pelajar Pelajar Jawa Tengah. Prestasi itu membuat Bekti mendapat kesempatan berlatih di Pusat Pembinaan Latihan Pelajar (PPLP) Jawa Tengah.
Belajar dari senior di PPLP Jawa Tengah membuat Bekti termotivasi untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. “Dulu awalnya setelah STM pengennya ya kerja. Tapi setelah juara ke Solo, lihat teman-teman senior-senior saya, akhirnya saya lanjut kuliah,” cerita pria kelahiran Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, 2 Oktober 1987 ini.
Prestasinya kian melejit saat kuliah di Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Sebelas Maret. Bekti sukses meraih medali emas kelas A putra dalam Sirkuit Pencak Silat Nasional tahun 2009. Sumbangsih tersebut mengantarkan kontingen Jawa Tengah menjadi juara umum.

Membina Prestasi Atlet Silat
Putra Jawa kelahiran Sumatera ini memutuskan pensiun sebagai atlet pada 2012. Keputusan besar itu ia ambil lantaran harus melanjutkan jenjang magister di Ilmu Keolahragaan UNS.
Namun, dedikasi pada pencak silat terus berlanjut. Bekti memulai karier baru sebagai pelatih atlet pencak silat. Misinya untuk mencetak generasi penerus atlet pencak silat Jawa Tengah.
Mulanya, Bekti melatih atlet pencak silat dari kalangan pelajar. Setahun kemudian pada 2013, Bekti mulai melatih mahasiswa. “Tahun 2013 itu saya megang tim Pomnas (pekan olahraga mahasiswa nasional) Jawa Tengah,” tutur Bekti.
Karier kepelatihannya berkembang pesat sejak saat itu. Bekti kemudian melatih sejumlah atlet pencak silat Jawa Tengah untuk berlaga dalam beberapa edisi Pekan Olahraga Nasional. Pada 2024 lalu, Bekti berangkat mendampingi kontingen pencak silat Jawa Tengah dalam PON Aceh-Sumatera Utara.
Baca Juga: Mahasiswa POR UMS Sabet Medali Emas PON XXI
Tak hanya di tingkat nasional, atlet besutan Bekti juga sukses meraih medali di perlombaan internasional. Salah satunya adalah Ginting Baharudin Putra, mahasiswa Pendidikan Jasmani UMS, yang sukses meraih sekeping emas dalam Asean University Games 2024.
Pria yang kini berstatus pendekar dalam Tapak Suci ini aktif dalam sejumlah organisasi otonom Muhammadiyah. Di tingkat cabang, Bekti pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Seni, Budaya, dan Olahraga Pimpinan Cabang Muhammadiyah Colomadu.
Sementara di tingkat pusat, Bekti mendapat amanah sebagai anggota Bidang Pembinaan Prestasi Lembaga Pengembangan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah masa jabatan 2022-2027.
Bekti juga ikut merintis pendirian Program Studi Pendidikan Jasmani UMS pada 2017 lalu. Ia menjelaskan pendirian prodi tersebut mulanya bertujuan untuk mendukung kaderisasi Tapak Suci Muhammadiyah. Tidak heran jika dirinya dipercaya menjadi ketua prodi Pendidikan Jasmani periode 2017-2021 dan 2021-2025.
Bersama sejumlah civitas academica UMS, Bekti turut melatih talenta organisasi mahasiswa Tapak Suci UMS. Ia juga aktif menggelar pelatihan intensif bagi atlet pencak silat UMS yang akan bertanding pada sejumlah kejuaraan. “Kalau latihan sama saya bakal lebih keras dan disiplin,” kelakarnya.
Metode BEX-TI yang ia kembangkan pun kerap digunakan untuk menempa atlet pencak silat UMS menjelang pertandingan. Terbukti sejumlah atlet yang ia didik berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional dan internasional.
Ia percaya setiap orang memiliki potensi yang dapat diasah untuk mencetak prestasi. Misi itulah yang ia emban sebagai seorang pelatih untuk memaksimalkan potensi anak didiknya. Bagi Bekti, anak didik harus lebih unggul dari gurunya. “Jika atlet saya prestasinya masih di bawah saya, berarti saya gagal,” tandasnya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







