Kurikulum Luar Negeri
Kedepankan Computational Thinking

Wacana pemerintah memasukkan materi kecerdasan artifisial (AI) dan coding sebagai mata pelajaran pilihan mulai dari jenjang pendidikan dasar telah mendapat perhatian khusus dari sejumlah kalangan. Perhatian tersebut datang dari pakar teknologi informatika hingga masyarakat umum. 

Menurut pewartaan kompas.com, gagasan tersebut awalnya dilontarkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Kebijakan Pendidikan di Jakarta, Senin (11/11/2024). Alasannya, agar murid Indonesia tidak kalah dari murid India.

Pernyataan tersebut sontak memancing perdebatan di jagat maya. Di platform X misalnya, warganet ramai mengkritik wacana tersebut. Salah satunya adalah @istbrhn yang mengatakan belum saatnya murid SD mempelajari coding dan AI. 

“Jelas belum masuk nalar, kalau berpikir komputasional masih bisa. Mentok website atau block code robotics. Kalo AI jauh banget buat mereka. Rasanya juga mendingan pake buat ngembangin dasar pengetahuannya dulu,” cuit akun @istbrhn, Selasa (12/11/2024). 

Kepala Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Arif Setiawan, S.Kom., M.Eng., mengatakan wacana tersebut merupakan langkah yang baik dalam menyikapi perkembangan teknologi saat ini. Namun, Arif menilai masih terlalu dini untuk murid SD mempelajari coding.

“Sebenarnya boleh-boleh saja, tetapi perlu dikaji secara mendalam. Sekolah dasar ini kan baru fundamental. Sedangkan coding dan AI ini sudah lanjutan. Mungkin kalau di SMP atau SMA baru bisa dilaksanakan,” kata Arif, Senin (18/11/2024).

Selain itu, wacana memasukkan coding dan AI ke dalam mata pelajaran SD berpotensi terganjal sejumlah kendala, yakni kemampuan guru coding yang terampil, serta pemerataan teknologi di seluruh sekolah dasar di Indonesia. Menurut Arif, dua hal tersebut harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum mengajarkan coding pada murid SD. 

Hal senada diungkapkan ahli computational thinking dari UMS, Irma Yuliana, S.T., M.M., M.Eng., yang menekankan pengetahuan dasar seperti kemampuan berhitung, berbahasa Inggris, dan berpikir logis. Pengetahuan dasar ini akan menunjang pemahaman murid SD terhadap coding

Disinggung mengenai wacana AI sebagai mata pelajaran, Irma menilai belum saatnya AI diajarkan pada ranah pendidikan dasar. Perlu pemahaman lebih lanjut mengenai etika penggunaan AI dan kejelasan posisi murid baik sebagai pengguna maupun pengembang AI. 

Penggunaan AI pada ranah pendidikan dasar terbilang menantang dan berisiko. Murid SD yang belum memahami etika penggunaan AI, berisiko mencari jawaban secara instan melalui AI. 

“Saat kita menanyakan sesuatu di AI, kita itu sedang melatih mesin AI. Yang terlatih itu otaknya AI bukan otak manusia. Ini berbahaya sehingga perlu pemahaman mengenai konsekuensi penggunaan AI,” jelas Irma, Selasa (19/11/2024).

Kurikulum Luar Negeri

Ide yang dilontarkan Wapres Gibran bukanlah hal baru. Beberapa negara telah mengajarkan coding dan AI kepada para murid SD. Sejak 2017, Cina telah mendorong institusi pendidikan setempat untuk memasukkan coding ke dalam mata pelajaran komputer, seperti yang ditulis The Straits Times

Pada 2018, beberapa daerah di Cina mulai mewajibkan pelajaran coding di tingkat SD. Komisi Pendidikan Kota Chongqing mengeluarkan edaran yang mewajibkan murid SD setempat untuk mendapatkan 36 jam pelajaran coding. Edaran tersebut juga mewajibkan setiap sekolah harus memiliki satu guru coding penuh waktu. 

Di tahun yang sama, otoritas di Provinsi Zhejiang, Cina, mulai memasukkan mata pelajaran teknologi informasi sebagai mata pelajaran pilihan dalam ujian masuk perguruan tinggi nasional. Mata pelajaran tersebut menitikberatkan pada pemrograman. 

Di kawasan Asia Tenggara, Singapura telah menghadirkan mata pelajaran coding di tingkat sekolah dasar. Mengutip laman imda.gov.sg, jiran Singapura telah menjadikan coding sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa kelas 4 hingga 6 sekolah dasar sejak 2020.

Program tersebut dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Otoritas Pengembangan Media Informasi dan Komunikasi Singapura dengan nama “Code for Fun”. Materi yang diajarkan antara lain berpikir komputasional, coding, dan AI dengan total waktu belajar selama 10 jam. Para murid di Singapura akan belajar mengenai pemrograman lewat medium robot dan/atau mikrokontroler. 

Masih di tahun 2020, India juga mengesahkan kebijakan baru yang memasukkan coding ke dalam mata pelajaran pendidikan dasar. Mengutip Hindustan Times, mata pelajaran coding mulai diajarkan kepada murid kelas 6 SD. 

Dalam pewartaan yang sama, Kementerian Pendidikan India meyakini coding dapat membantu mengembangkan setiap unit otak anak, baik melalui pemikiran logis, maupun integrasi seni, mekanika, atau pemikiran analitis. Coding dipercaya membantu anak-anak memasuki era teknologi baru sekaligus menjadi wadah mereka untuk mengembangkan aplikasi dan permainan.


Kedepankan Computational Thinking

Irma Yuliana menilai, wacana memasukkan coding dan AI ke dalam mata pelajaran SD perlu ditinjau. Kedua topik tersebut sangat membutuhkan kemampuan nalar para murid untuk membentuk pola pikir logis yang dapat dibentuk melalui computational thinking atau berpikir komputasional. 

“Tidak bisa serta merta karena perlu dipastikan SDM pengajar, materi yang tepat, dan sarpras penunjang,” jelas Irma.

Baca juga: Di Persimpangan Jalan Kurikulum Merdeka

Computational thinking adalah cara menyelesaikan suatu masalah dengan menguraikan persoalan menjadi beberapa bagian atau tahapan yang efektif dan efisien, sehingga mencapai kondisi optimal yang kontekstual. Berpikir komputasional adalah proses menyelesaikan masalah dan membangun solusi seperti ilmuwan komputer berpikir, bukan berpikir seperti komputer.

Mengutip laman dicoding.com berpikir komputasional adalah sebuah metode untuk menyelesaikan suatu masalah yang dirancang untuk bisa diselesaikan oleh manusia atau sistem atau keduanya.

“Dengan computational thinking, seseorang akan mampu memodelkan permasalahan dengan baik, mencari problem statement, dan menyusun solusinya,” terang Doktor Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Universitas Negeri Yogyakarta, itu.

Kemampuan berpikir komputasional harus diajarkan terlebih dahulu kepada murid SD sebelum mempelajari pengkodean dan AI. Sebab, materi tersebut akan membentuk kemampuan berpikir logis dan kritis terhadap suatu persoalan. 

Meskipun tidak diberi nama secara khusus dalam kurikulum yang berlaku saat ini, beberapa sekolah dasar sudah memasukkan materi kemampuan berpikir komputasional dilebur ke dalam mata pelajaran yang diajarkan kepada para murid. Salah satu contohnya melalui soal cerita yang diajarkan dalam mata pelajaran matematika. Soal cerita mampu membangun nalar kritis murid lewat kasus-kasus yang lazim dijumpai sehari-hari. 

Beberapa teori dalam matematika dapat digunakan untuk melatih kemampuan berpikir komputasional. Salah satunya adalah teori graf yang mempelajari himpunan titik yang saling terhubung dengan titik lainnya. Teori graf merupakan dasar penyusunan aplikasi peta digital seperti Google Maps. Salah satu contoh penerapannya adalah murid diminta mencari jarak terdekat dalam peta dari rumah ke sekolahnya. 

Cara lain adalah mengemas kemampuan berpikir komputasional dengan metode unplugged. Misalnya, menggunakan permainan kartu angka secara acak. Para murid akan diminta mengurutkan kartu dari angka terkecil hingga terbesar. Salah satu algoritma yang digunakan dalam permainan ini adalah bubble sort, yakni dengan membandingkan setiap kartu dan mengelompokkannya berdasar urutan sampai tidak ada lagi perubahan pada urutan kartu tersebut. 

Permainan lainnya adalah orange game. Caranya membentuk satu kelompok yang terdiri dari lima orang anak. Jenis buah yang dipegang oleh setiap anak berbeda-beda, namun jumlahnya sama, yakni dua buah. Hanya ada satu anak yang memegang satu jenis buah. 

Buah akan dibagikan secara acak dan dipegang dengan tangan. Setiap anak harus memindahkan buah sampai semua memegang buah yang sama. Caranya dengan melompati satu buah di sebelahnya. Melalui konsep ini, anak akan mempelajari konsep bottleneck dalam jaringan. 

Kemampuan berpikir komputasional juga bisa dilakukan dengan pendekatan kehidupan sehari-hari. Misalnya, melalui studi kasus antrean hingga merapikan barang yang menumpuk. Konsep dasar seperti ini, menurut Irma, membuat anak melatih kemampuan berpikir logis sekaligus mengajarkan etika di lingkungan sosial. 

“Jadi anak-anak paham mengenai struktur data, seperti konsep antrean, tumpukan. Misalnya antrean, anak akan memahami konsep first in first out,” ujar Irma. “Konsep seperti ini namanya semantic wave. Mengajarkan sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang konkret kepada anak.”

Irma, yang juga Koordinator Biro Bebras PTI UMS, mengatakan salah satu tantangan untuk meningkatkan kemampuan berpikir komputasional adalah Bebras Challenge. Sebuah kompetisi tahunan yang menghadirkan soal-soal berpikir komputasional. 

Dalam beberapa kasus yang Irma jumpai, kemampuan berpikir komputasional berhasil mendorong anak lebih disiplin. “Beberapa orang tua yang anaknya ikut Bebras Challenge memberikan testimoni kalau anaknya lebih logis,” sambungnya. 

Kemampuan berpikir komputasional membuat anak memahami pentingnya bangun pagi dan mandi lebih awal agar tidak terlambat masuk sekolah. “Kalau keluar rumah pukul sekian, nanti bisa terjebak macet di lokasi X. Maka harus keluar rumah lebih awal biar tidak terjebak macet,” ucap Irma mengulangi testimoni salah satu orang tua.

Namun, materi kemampuan berpikir komputasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Aktif sebagai narasumber nasional bimbingan teknis mata pelajaran informatika untuk guru SMP yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membuat Irma kerap menemui guru teknologi, informasi, dan komunikasi dengan latar belakang noninformatika.

“Mereka diperkenankan oleh GTK untuk mengajar mapel informatika yang wajib untuk SMP dan SMA kelas X. Jika untuk mata pelajaran wajib saja masih kurang (tenaga pengajar), apa kabar dengan pengajar SD?” tambah dia.

Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan dan kualitas pengajar, serta sarana dan prasarana sekolah sebelum memasukkan mata pelajaran coding. Dengan demikian, bukan tidak mungkin jika nantinya kurikulum coding akan diterapkan secara masif di seluruh Indonesia dan asa mengalahkan murid India pun tercapai. 


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Penelitian

image-featured
17 Juli 2026

Dari kotoran domba, lahirlah pupuk organik kaya nutrisi untuk tumbuhan lewat bantuan “maggot”. Mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan “zero waste”.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
19 Juni 2026

Antibiotik termasuk obat keras yang seharusnya tidak diperjualbelikan bebas. Menyimpan sisa dan mengonsumsinya bisa memicu resistensi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.