Belakangan terakhir, negara-negara di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, meliputi India, Bangladesh, Filipina, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Vietnam sedang dilanda cuaca ekstrem yang disebabkan oleh beberapa faktor. Fenomena tersebut kemudian dilabeli dengan sebutan gelombang panas atau heat wave.
Dalam ilmu klimatologi, gelombang panas adalah periode yang berkepanjangan di mana suhu udara secara signifikan lebih tinggi dari biasanya di suatu wilayah. Syarat terjadinya gelombang panas dapat bervariasi tergantung pada letak geografis suatu wilayah, namun terdapat juga beberapa faktor umum yang menjadi penyebab gelombang panas, di antaranya:
- Suhu tinggi: Umumnya, suhu yang lebih dari 5-10 derajat Celsius di atas suhu rata-rata untuk musim tersebut dapat diklasifikasikan sebagai gelombang panas.
- Durasi yang berkepanjangan: Gelombang panas biasanya bertahan lebih dari beberapa hari, bahkan bisa berlangsung hingga beberapa minggu.
- Kelembaban yang rendah: Udara kering atau kelembaban yang rendah dapat meningkatkan efek panas dan membuat gelombang panas terasa lebih ekstrem.
- Pola angin: Posisi dan kecepatan angin dapat memengaruhi suhu udara. Angin yang bertiup dari daerah yang lebih panas dapat meningkatkan suhu di daerah lain.
- Pola cuaca ekstrem: Perubahan dalam pola cuaca alamiah seperti El Nino dapat menyebabkan suhu yang tidak biasa tinggi di beberapa wilayah. Faktor-faktor ini dapat berinteraksi dengan cara yang kompleks untuk menyebabkan gelombang panas yang parah di beberapa wilayah.

Gelombang panas sendiri termasuk salah satu fenomena alam yang dipicu oleh peristiwa El Nino. Selama periode El Nino, pola angin di Samudra Pasifik mengalami perubahan yang signifikan yang menyebabkan peningkatan suhu udara di berbagai wilayah di seluruh dunia. Peningkatan suhu ini bisa menciptakan kondisi yang sangat panas di beberapa wilayah, yang dikenal sebagai gelombang panas.
Baca juga: Mengulik El Nino dan Dampak Perubahan Iklim
Melansir Detik.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Republik Indonesia menyebut gelombang panas yang merambah sejumlah titik di benua Asia berdampak pada beberapa hal, salah satunya adalah kematian sejumlah warga Thailand. Kabar duka itu langsung meledak di seantero jagat maya, kemudian orang-orang gaduh dan saling bertanya, “kira-kira bagaimana dengan kondisi di Indonesia?.”
Apakah Indonesia Terkena Gelombang Panas?
Untuk menjawab kegelisahan yang mungkin masih dirasakan oleh sebagian masyarakat di Indonesia, kami berinisiatif untuk belajar bersama Drs. Yuli Priyana. M.Si. (dosen Geografi UMS) dan Winny Perwithosuci, S.E., M.E. (dosen Ekonomi Pembangunan UMS) terkait isu gelombang panas yang melanda Indonesia dan pengaruhnya bagi kestabilan ekonomi negara.
“Menanggapi huru-hara yang beredar di beberapa media online, yang menyatakan gelombang panas di Indonesia sedang berlangsung, itu sebenarnya tidak benar dan kurang berdasar. Meski suhu udara saat ini terasa menyengat dan panas, BMKG mengatakan hal ini tak berkaitan dengan fenomena gelombang panas yang saat ini melanda sejumlah negara di Asia,” terang Yuli.
Secara spesifik, Yuli menjelaskan Indonesia mungkin akan mengalami gelombang panas, meskipun persentase kejadiannya kecil tak seperti di negara-negara lintang tengah atau tinggi dengan iklim yang lebih kering atau kontinental. Sementara itu, faktor-faktor seperti angin kering dan kekurangan hujan juga dapat memperburuk kondisi panas yang ekstrem. Namun, untuk melabeli fenomena ini secara tepat sebagai heat wave, perlu dilihat juga dari faktor lain seperti kelembaban udara dan pola suhu yang abnormal dalam kurun waktu tertentu.
“Cuaca ekstrem berupa fenomena panas yang terik berlangsung selama beberapa pekan terakhir di Indonesia. Kondisi ini sebagai akibat dari siklus gerak semu matahari yang dapat terjadi berulang setiap tahun. Posisi semu matahari akan berdampak pada besarnya radiasi matahari seperti pada bulan Maret matahari akan berada pada garis equator, dan bergerak ke utara sampai pertengahan bulan Juni, kemudian akan bergerak lagi ke tengah pada bulan September, sampai pertengahan bulan Desember bergerak lagi ke belahan bumi selatan,” jawab pakar meteorologi dan klimatologi UMS itu penuh perincian.
Dilansir situs resmi BMKG, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menyatakan fenomena ini merupakan kondisi yang wajar terjadi di bulan April dan Mei. Mereka juga merilis informasi terkait prediksi awal musim kemarau periode tahun 2024 di Indonesia yang akan berlangsung di bulan Mei hingga Agustus.
Kestabilan Pangan
Beberapa penelitian menyebutkan panas ekstrem dapat melukai pertumbuhan ekonomi secara langsung, salah satunya pada sektor pertanian. Meski tak bisa disebut sebagai fenomena gelombang panas, faktanya Indonesia mulai memasuki musim kemarau yang diprediksi akan berlanjut cukup lama.
“Cuaca panas yang ekstrem dapat menyebabkan kandungan air pada tanaman cepat hilang, terganggunya siklus tanam, dan kekeringan pada tanah. Mungkin pada sektor pertanian dataran tinggi, perubahan suhu tidak terlalu berpengaruh. Berbeda dengan pertanian di dataran rendah, karena suhu yang ekstrem akan meningkatkan evaporasi dan stress pada tanaman. Kekeringan tanah juga menurunkan kualitas pembusukan material organik sehingga bisa mengganggu kesuburan tanah,” jabar Winny.
Lebih gamblang, Winny menjelaskan hal-hal di atas akan menyebabkan produksi pertanian mengalami penurunan akibat gagal panen. Produksi pertanian yang tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar akan menyebabkan harga pangan terlalu tinggi.
Ancaman Resesi Bagi Dunia Pariwisata
Bagi sektor pariwisata, kemungkinan yang terjadi adalah adanya penurunan jumlah wisatawan seperti yang terjadi di Semarang. Hal tersebut lantaran tak banyak orang memiliki toleransi tinggi terhadap cuaca dan suhu harian yang tinggi, mengingat suhu yang terlalu panas juga membawa dampak negatif pada kesehatan seperti demam dan sakit kepala.
Laporan dari Kompas.com menyebutkan, jumlah kunjungan wisatawan di Semarang menurun drastis selama bulan Mei 2023 akibat dipicu cuaca ekstrem. Kondisi ini dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Wing Wiyarso yang mengungkapkan kondisi cuaca panas membuat wisatawan malas datang ketika siang hari, mengingat beberapa destinasi wisata unggulan di Kota Semarang kebanyakan berlokasi di luar ruangan, seperti Kota Lama, Lawang Sewu, Semarang Zoo, dan Pantai Marina.
Mengutip Republika.co.id, lahan jalur pendakian Aik Berik dan Tete Batu menuju kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Pulau Lombok mengalami kebakaran hutan. Polres setempat menyatakan pemicu kebakaran tersebut ialah cuaca ekstrem yang disertai angin kencang. Akibatnya, jalur pendakian Aik Berik dan Tete Batu ditutup sementara pasca kebakaran lahan di kawasan tersebut pada 4 Agustus 2023.
“Beberapa destinasi wisata memanfaatkan hutan sebagai salah satu tujuan wisata. Adanya gelombang panas menyebabkan kekeringan parah dan kebakaran hutan yang sudah dibuktikan dengan beberapa kasus pada beberapa tahun terakhir. Konsekuensinya, pendapatan pada sektor pariwisata bisa menurun. Selain itu, beberapa pekerja cenderung tak produktif ketika suhu di sekitar tengah panas-panasnya,” tambah Winny.
Kesenjangan Sosial dan Ekonomi
Sebagian masyarakat akan membayar air lebih mahal, karena cuaca panas ekstrem membuat persediaan air di sumur-sumur rumah kita akan menyurut sepanjang musim kemarau. Tak heran, menipisnya persediaan air bersih cukup membuat masyarakat kembang kempis.
“Konsumsi air bersih yang kian bertambah mengakibatkan persediaan air juga semakin berkurang. Dengan persediaan air yang terbatas, harga akan melonjak. Masyarakat menengah ke atas mampu untuk membayar lebih air yang akan mereka konsumsi, sedangkan masyarakat menengah ke bawah akan kesulitan mengakses air bersih,” ujar pakar ekonomi kemasyarakatan UMS itu.
Dampak gelombang panas lainnya adalah banyaknya penyakit dan keluhan kesehatan. Faktanya, serangan panas atau heatstroke telah menewaskan puluhan warga ekonomi lemah di Thailand. Tentu fenomena ini menjadi momok masyarakat rentan di Indonesia yang sulit mengupayakan pengobatan layak seandainya gelombang panas benar-benar menerjang.
Beberapa menit sebelum berpisah dengan kami, Winny berharap, jika seandainya nanti gelombang panas memanggang Tanah Air ini, pemerintah setempat usah turun tangan dan saling menopang dengan melakukan upaya mitigasi dan adaptasi. Salah satunya yaitu mengalokasikan budget daerah untuk membangun ruang terbuka hijau atau taman kota yang berfungsi menurunkan suhu dan mengurangi panas. Masyarakat pun harus lebih bijak menggunakan air, dan pemerintah bisa membantu menyediakan supply air bersih untuk masyarakat.
“Tak bisa disangkal lagi bahwa Indonesia ikut terdampak cuaca ekstrem akibat anomali iklim, meski sebutannya bukanlah gelombang panas, namun efeknya akan tetap melukai semua sendi-sendi kehidupan kita,” rampung Winny, penulis buku berjudul Perubahan Iklim dan Adaptasi Sektor Pertanian.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







