Gelaran Kontes Robot Indonesia (KRI) 2024 memasuki babak Seleksi Wilayah I & II. Melalui acara tersebut, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) selaku tuan rumah berkomitmen mengembangkan robot-robot baru.
Wakil Rektor III UMS, Prof. Ihwan Susila, M.Si., Ph.D., melihat antusiasme mahasiswa mengikuti gelaran bergengsi ini cukup tinggi. Hal itu juga tercermin dari keikutsertaan UMS dengan mengirimkan empat tim, yakni divisi Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI); Kontes Robot SAR Indonesia (KRSRI); Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI); dan Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI).
“Sebenarnya kami ingin ada tim-tim robot lain karena sebenarnya ada tujuh kategori. Kami sedang berusaha untuk mencari sponsor agar mereka juga terlibat. Jadi pendidikan di UMS ini tidak hanya sekedar dari sumber dana UMS, tapi bagaimana bisa menggandeng beberapa mitra agar mereka juga ikut terlibat di dalam pengembangan robotika ini,” tutur Ihwan.
Ihwan menyampaikan bahwa UMS sudah cukup intens berdiskusi dengan mitra untuk mengembangkan robot di Indonesia terutama di UMS.
“Ke depan kami akan support mahasiswa untuk mengembangkan robot kategori baru karena kami hanya punya empat (kategori robot) dan mudah-mudahan tahun depan kami bisa mempunyai tujuh robot untuk diikutkan ke dalam KRI selanjutnya. Tapi tentu ini tergantung juga dengan mahasiswa, karena robot itu tidak sekedar cari robot atau bikin robot, tapi riset tentang robotika itu penting,” ungkapnya.

Menurut Ihwan, mahasiswa UMS telah memiliki kemampuan untuk melakukan riset di bidang robotika sekaligus mengembangkannya. Peranan dosen juga penting untuk membimbing mahasiswa untuk bisa mendapatkan prestasi tersebut.
UMS terus mengajak dosen-dosen di Fakultas Teknik, terutama Prodi Teknik Elektro maupun Teknik Industri untuk menjadi pembimbing atau pembina komunitas robot di UMS ini.
Berbicara mengenai robotika, Ketua Dewan Juri KRI 2024 Prof. Dr.Eng. Drs. Benyamin Kusumoputro, M.Eng., menyampaikan sebenarnya Indonesia tidak kalah dengan robot di luar negeri. Hanya saja, ada beberapa faktor yang menurut Benyamin menghambat perkembangan robotika di Indonesia. Salah satunya adalah perekonomian yang akhir-akhir ini tengah bergejolak.
“Itu sebenarnya yang jadi konsen kita sebenarnya. Jadi jangan sampai semangat pengembangan keilmuan terutama di bidang otonomi, otonomus, dan robotik itu menjadi berkurang peminatnya,” ungkap Benyamin.
Dia berharap KRI 2024 menjadi ajang untuk mengangkat dunia robotika di kancah nasional sekaligus memupuk semangat di benak mahasiswa..
Penulis: Maysali
Editor: Gede
Sumber: News UMS
Penelitian
UMS Newsletter
Nothing’s more special than reading curated news just for you.
Subscribe to the UMS Newsletter for free today.







